Friday, June 24, 2016

Tragedi di Malam 17 Agustus


Pernahkah anda berada pada suatu peristiwa dimana kemudian terjadi pembunuhan? Semoga saja tidak. Kisah ini adalah kejadian nyata yang terjadi puluhan tahun lalu ketika saya masih SMP dikampunghalaman saya di PalattaE, Bone bagian selatan, diawal 1980an. Kejadian yang begitu membekas dalam ingatan saya yang saat itu baru beranjak dari masa kanak kanak ke masa remaja.


Tanggal dan tahun peristiwa tersebut sudah tidak kuingat lagi, karena sudah puluhan tahun berlalu. Yang saya masih ingat adalah malam itu malam perayaan 17 Agustus. Menjelang 17 Agustus, keadaan ibukota kecamatan Kahu yaitu Palattae ramai karena kedatangan para peserta perkemahan dari semua desa di Kecamatan Kahu. Waktu itu ada 10 desa. Sekarang ini sudah lebih dari 10 karena banyak desa baru hasil pemekaran. Peserta perkemahan mulai dari SD, SMP dan SMA. Kalau siang hari diadakan lomba olahraga seperti sepakbola, volly, sepak takraw dan lain lain, maka pada malam hari adalah lomba seni. Ada lomba baca puisi, tari, seni suara, folk song, qasidah.
Pada malam kejadian itu, saya mengajak ibu saya untuk pergi ke kantor kecamatan tempat perlombaan seni berlansung. Baru kali itu juga ibuku mau pergi menonton, dan ayahku tinggal dirumah, karena ada beberapa orang tetangga yang datang ngobrol dirumah. Biasanya ayah dan ibuku baru datang keperayaan jika malam penutupan tiba, ketika para pemenang perlombaan diumumkan dan diberi hadiah. Malam penutupan biasanya akan dihadiri oleh pak Camat dan unsur pimpina kecamatan lainnya.


Suasana malam itu seperti biasa, masih remang remang didepan kantor Kecamatan. Listrik sudah ada tapi belum maksimal digunakan. Bagian yang paling terang hanya diteras kantor camat, dimana semua pertunjukan berlansung. Sementara bagian penonton hanya sedikit yang diterangi lampu. Bersama ibuku, saya memilih bagian kiri pintu masuk kantor camat, tidak jauh dari dekker yang ada dipinggiran jalan poros. Tempatku berdiri sebenarnya kurang strategis karena saya tidak bisa melihat secara keseluruhan peserta lomba. Apalagi banyak orang dewasa yang lebih tinggi badannya dibagian depan. Tapi saya dan ibuku tidak bisa lagi lebih kedepan karena padatnya pengunjung. Perayaan yang hanya sekali setahun membuat para pengunjung berdatangan dari berbagai desa disekitar, bahkan dari kecamatan sebelah yang desanya dekat dari Palattae.


Belum lama kami berdiri menonton, tiba tiba terjadi kepanikan dari para penonton. Ya, terjadi penikaman terhadap salah seorang penonton laki laki. Tempat kejadian itu tidak jauh dari tempatku berdiri bersama ibuku, karena saya masih mendengar korbannya berteriak teriak, “mate’na…mate’na” (mati aku mati aku!). Suasana remang remang, sehinga saya tidak bisa melihat pelaku dan korban, tapi jaraknya dekat sehingga jeritan korban masih kudengar jelas sebelum tenggelam oleh suara penonton lainnya yang berlarian dengan kepanikan luar biasa. Secara spontan ibuku meraih tanganku dan dengan berlari kecil kami pulang kerumah. Sayup sayup masih kudengar keriuhan suasana. Sampai dirumah, ibuku memberitahukan ayah dan tetangga lain yang ada dirumahku tentang kejadian tersebut. Kebanyakan penonton langsung berlarian pulang kerumah, sebagian lagi lari masuk kekantor camat.


Esok paginya, orang orang masih membicarakan peristiwa mengerikan tersebut. Korban penikaman, meninggal dunia dan saya dan beberapa teman SMP masih sempat melihat ceceran darah korban dijalan raya. Korban pada malam kejadian diangkat menggunakan tandu, karena waktu itu Puskesmas (pusat kesehatan masyrakat) belum memiliki mobil ambulans. Saya sudah lupa siapa nama korban dan siapa pelakunya. Kejadian malam itu masih teringat jelas dalam memori saya meski sudah puluhan tahun berlalu.







Tuesday, January 5, 2016

Sydney Harbour Bridge, Icon Sydney dan Australia

Berkunjung ke kota Sydney, serasa belum lengkap tanpa berfoto dengan latar belakang jembatan Sydney Harbour Bridge dan Sydney Opera House. Kedua bangunan ini saling berdekatan dan termasuk dua bangunan icon Australia yang paling banyak menjadi objek foto didunia. Jembatan ini punya nama sebutan khas bagi warga Sydney, yaitu “The Coat Hanger” atau gantungan baju karena bentuknya yang menyerupai gantungan baju dilemari (hanger).
Jembatan Sydney Harbour Bridge adalah jembatan raksasa yang menghubungkan antara pusat bisnis Sydney (CBD, Central Business District) dengan North Sydney. Banyak jalur diatas jembatan ini, karena bisa dilalui oleh kendaraan roda empat dan roda dua, kereta api, dan juga disediakan jalur khusus pejalan kaki.
Pembangunannya dimulai pada tahun Juli 1923 dan selesai Maret 1932 dan diresmikan dan mulai dibuka pada tanggal 19 Agustus 1932. Perancang jembatan megah ini adalah Dr. J.J.C. Bradfield dari New South Wales Department of Public Works. Bradfield terinspirasi oleh jembatan Hell Gate di New York, Amerika Serikat. Ketinggian jembatan dari permukaan air hingga kepuncak konstruksi adalah 134 meter, sementara lebar badan jembatan 49 meter dengan 8 jalur kendaraan bermotor, 2 jalur kereta api, jalur sepeda dan trotoar. Karena lebarnya, jembatan ini tercatat dalam buku rekor dunia (Guiness World Records) sebagai jembatan lengkung besi terlebar didunia. Lajur paling luar jembatan ini adalah trotoar tempat pejalankaki atau jogger (pelari). Bersama teman kuliah dari Indonesia, saya pernah jogging melintasi jembatan ini saat masih di Sydney.
Jembatan ini bukan sekedar penghubung tetapi juga dijadikan obyek wisata oleh pemerintah kota Sydney. Wisatawan baik dari dalam negeri Australia maupun dari luar Australia bisa memanjat jembatan sampai ke puncak lengkungannya. Jembatan ini bersama dengan gedung Sydney Opera House juga banyak menjadi obyek foto pada kalender, wallpaper, postcard, brosur pariwisata, pamflet dan lain lain. Bahkan banyak dijadikan latarbelakang film dan sinema elektronik, film TV, film iklan dan dokumentasi lainnya. Masih ingat film soap opera “Return To Eden”? film Australia yang setiap pekan diputar di TVRI pada akhir 1980an. Film ini pembukaannya memperlihatkan suasan jembatan ini dan gedung opera house. Pada pernerbangan perdana saya dari Denpasar ke Sydney, saat pesawat berada diatas kota Sydney, pilot memiringkan pesawat sedikit dan mengumumkan kepada penumpang tentang pemadangan jembatan dan gedung Opera House ini. Jembatan ini juga selalu menjadi lokasi perayaan pergantian tahun yang meriah. Kembang api diluncurkan dari jembatan ini setiap malam tahun baru, sehingga Sydney selalu menjadi kota dengan perayaan tahun baru paling meriah didunia.
Ujung jembatan dibagian selatan berlokasi di Millers Point dikawasan yang dikenal dengan nama The Rocks, sedangkan ujung utaranya berada di Milsons Point di Sydney Utara. Jalan utama jembatan ini dikenal dengan nama Bradfield Highway panjangnya sekitar 2,4 kilometer atau 1,5 mil. Lengkungan jembatan panjangnya 503 meter dan pada titik puncaknya berjarak 134 meter dari permukaan air sungai (laut). Konstruksi jembatan ini terbuat dari baja yang 79% diimpor langsung dari Inggris, dan sisanya dari Australia sendiri.
Disetiap ujung jembatan terdapat sepasang tiang beton raksasa (pylon) yang dilapisi dengan granit. Perancang tiang jembatan ini adalah arsitek Skotlandia bernama Thomas S. Tait. Keempat pylon diujung jembatan difungsikan pula sebagai museum, dan pusat informasi pariwisata dan wisatawan bisa melihat kota Sydney dan pelabuhan disekitar 360° . Pylon ini dilengkapi dengan CCTV untuk memantau arus lalulintas diatas jembatan. Dua pylon diutara, ada yg difungsikan sebagai saluran pembuangan gas/asap dari terowongan yang ada dibawa laut. Dibawa jembatan terdapat terowongan yang dilalui oleh kendaraan roda empat yang menghubungkan antara Sydney CBD dengan North Sydney. Bagi anda yang akan ke Sydney, jika ingin berfoto dengan latar belakang Sydney Harbour Bridge dan Sydney Opera House, maka lokasi yang terbaik adalah di Mrs. Macquaries Chair, diujung Royal Botanical Garden, seperti foto saya dibawa ini.
Kalau mau lebih dekat, anda bisa jalan jalan ke Sydney Opera House dan berfoto disisi barat gedung dan berfoto dengan latar belakang jembatan. Lebih bagus lagi kalau ada perahu atau kapal ferry yang lewat. Jalan jalan (maksud saya, benar benar jalan kaki) disekitar jembatan dan gedung Opera House juga sangat menyenangkan, karena berbagai tempat wisata bisa disinggahi, ada Museum Seni, ada rumah zaman dulu saat awal imigrasi Eropa ke Australia 300 tahun lalu, ada banyak restoran, bahkan ada kapal pesiar yang merupakan replika kapal kuno yang bisa dipakai keliling pelabuhan Sydney. (Sumber gambar: koleksi pribadi, architecturalpics.com.au, pinterest.com dan melbourneblogger.blogspot.com, abcnews.go.com)

Friday, October 30, 2015

Upacara 17 Agustus 2015 di Istana Negara

Tahun ini adalah peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-70 Proklamasi Kemerdekaan bangsa Indonesia. Alhamdulillah, setelah usia ke-70 tahun proklamasi kita, saya akhirnya mendapat kesempatan mengikuti Detik detik Proklamasi di Istana Negara Jakarta. Berawal dari terpilihnya saya sebagai juara I Arsiparis teladan tingkat provinsi Sulawesi Selatan 2015, yang dilaksanakan di kantor Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi Sulawesi Selatan pada Juli 2015. Dengan kemenangan tersebut, saya mewakili provinsi Sulawesi Selatan dalam pemilihan Arsiparis Teladan pada tingkat nasional di Jakarta yang dilaksanakan bertepatan dengan pemilihan Lembaga Kearsipan Teladan dan pemilihan Teladan lainnya selama Agustus 2015.
Kami berlima, saya, seorang pendamping dan 3 teman lainnya yang juga mendapat tugas kedinasan, berangkat ke Jakarta pada Minggu / Ahad 16 Agustus 2015 pukul 8 pagi. Setiba di Jakarta kami menuju hotel Permai tempat rekan kerja kami menginap dan kemudian ke hotel RedTop dikawasan Pecenongan, tempat kami peserta Pemilihan Arsiparis Teladan menginap. Pelaksanaan pengujian Pemilihan Arsiparis Teladan Nasional juga dilaksanakan dihotel ini, di ruang Grand Emerald Lt. 3.
Registrasi peserta dimulai pada pukul 1 siang, kemudian kami makan siang bersama, istirahat sebentar lalu pada pukul 3 sore, acara pembukaanpun dimulai. Diawali dengan pengarahan dari ketua panitia, dilanjutkan dengan wawancara peserta Arsiparis tingkat terampil. Saya sendiri masuk kategori Arsiparis Ahli dan wawancara dilaksanakan keesokan harinya setelah Upacara Peringatan detik detik proklamasi di Istana Negara. Waktu menunjukkan pukul 4.45 katika alarm telepon selulerku berbunyi. Waktunya bangun dan mandi, shalat subuh, sarapan dan siap siap ke Istana Negara. Kami berkumpul di lobby hotel RedTop pada pukul 6 pagi. Semua berpakaian resmi, yang laki laki mengenakan stelan Jas warna gelap, dasi bernuansa merah dan wanita mengenakan kebaya dan kain. Sebagian diantaranya menyematkan tanda satya lencananya didada, karena memang disebutkan di Undangan, supaya mengenakan tanda kehormatan yang ada. Suasana masih agak gelap ketika dua bus membawa rombongan Arsiparis Teladan dan Panitia dari Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) meninggalkan tempat parkir hotel RedTop. Namun perjalanan ternyata sudah tidak lancar seperti yang saya perkirakan, karena menurut salah seorang peserta yang dari Jakarta, jarak hotel dengan Istana Negara tidak terlalu jauh.
Setelah menempuh perjalanan dengan bus selama sekitar 30 – 45 menit, akhirnya kamipun sampai di Istana Negara. Sekitar satu kilometer sebelum Istana, jalan jalan dipenuhi oleh prajurit TNI AD yang bertugas mengamankan jalannya upacara nanti. Karena banyaknya bus dan kendaraan lain peserta upacara, bus kami parkir agak jauh dari halaman istana, dan jalan kaki menuju pintu gerbang istana. Sepanjang perjalanan dari parkir bus ke pintu gerbang istana, kami dikerumuni oleh para “paparazzi” alias para photografer jalanan. Ada teman peserta yang dengan sengaja bergaya saat difoto tapi kebanyakan tidak menghiraukan para fotografer tersebut, termasuk saya.
Memasuki pintu gerbang Istana dari arah Jl. Medan Merdeka Utara para peserta upacara dari berbagai kalangan antri menunggu pemeriksaan dari para petugas Istana. Entah mereka dari kesatuan mana, tapi saya perkirakan dari Pasukan Pengamanan Presiden atau Paspampres. Atau mungkin juga dari staf Sekretariat Negara. Setelah menunjukkan undangan, kami kemudian diperiksa dengan metal detector, dan barang bawaan juga discan (seperti alat scanner barang di bandar udara) oleh petugas, diantaranya prajurit wanita atau polisi wanita yang berpakaian batik. Setelah melewati pemeriksaan dan memasuki halaman istana, hiburan musik tradisional menyambut kami para peserta upacara. Tiga orang pria berpakaian tradisional suku Dayak, memainkan alat musik petik Sampe dari Kalimantan Barat pada panggung disamping gerbang pemeriksaan barang bawaan. Sebenarnya banyak pertunjukan musik dijadwalkan pada hari itu, karena acara sampai sore yaitu Upacara penurunan pusaka. Tapi kami diundang hanya untuk upacara dipagi hari jadi acara musik yang kami saksikan hanya musik Sampe itu.
Dihalaman istana, dekat airmancur didepan kantor Wakil Presiden berjejer tenda tenda tempat pengambilan souvenir kemerdekaan. Stand dari berbagai media juga ada, dan membagikan goodie bag (tas berisi berbagai cenderamata) bagi para peserta upacara. Souvenir kemerdekaan didapatkan dengan cara menukarkan kupon yang ada pada undangan Upacara. Demikian pula dengan snack. Sementara goodie bag dari para sponsor diperoleh secara gratis. Ada juga stand yang menjual souvenir kemerdekaan, misalnya, pin, kaos, topi, payung, pulpen, pin garuda, dan benda lainnya yang bertuliskan 70 tahun Indonesia Merdeka.
Setelah menukarkan kupon dengan tas souvenir, kami pun mencari tempat duduk di tribun B dan C sesuai yang tertera di undangan. Masih lebih dari 2 jam lagi acara dimulai, namun setengah baris tempat duduk yang bagian depan sudah penuh. Ternyata kursi kursi terdepan menjadi rebutan para peserta upacara. Saya langsung mengambil tempat duduk dibagian tengah. Kami Arsiparis teladan berdampingan dengan para Keluarga Sakinah Teladan duduk di tribun B dan C sesuai undangan. Selama menunggu acara dimulai, kami ngobrol dengan sesama teladan, ada juga yang asyik membaca koran dan majalah yang diperoleh gratis ditenda dekat pintu gerbang. Sebagian peserta lainnya sibuk berfoto diri (selfie). Semua kegiatan persiapan Upacara penaikan bendera pusaka, dapat disaksikan dilayar monitor besar yang ditempatkan diberbagai tempat. Layar TV besar tersebut juga merupakan hiburan tersendiri bagi para peserta upacara yang bosan menunggu. Beberapa kali ada peserta yang dishoot dan dizoom close up, tanpa mereka sadari, saat mereka misalnya memperbaiki dasi, memoles make-up, sehingga menimbulkan gelak tawa para peserta. Beberapa menit sebelum pukul 10.00 pagi, bunyi terompet menggema diseputar Istana, pertanda akan segera dimulainya Upacara Detik Detik Peringatan HUT ke-70 Proklamasi RI. Para pasukan bersiap siap, disana sini terdengar derap langkah para militer dan kepolisian mengatur posisi, memasuki tempat yang telah ditentukan. Para pasukan militer tersebut memasuki lapangan upacara melalui dua pintu gerbang istana. Dari layar monitor terlihat ada 4 prajurit perempuan yang bertindak sebagai Master of Ceremony (MC), masing masing dari 3 angkatan TNI dan 1 dari POLRI. Ketika Presiden dan Wakil Presiden serta pejabat lainnya tiba di Istana, dan naik ke panggung kehormatan, hadirin para peserta yang ada di tribun dimohon berdiri dan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Dari tempat duduk saya di Tribun C, saya bisa melihat langsung kepala negara dan wakilnya beserta ibu dan pejabat lainnya. Selanjutnya adalah acara detik detik peringatan HUT Proklamasi yang ditandai dengan bunyi dentuman meriam dan bunyi sirene. Moment inilah yang paling mengharukan bagi saya, sampai merinding buluroma dan mataku berkaca-kaca. Ingatanku adalah detik detik itulah 70 tahun lalu, ketika Soekarno dan Hatta mengumumkan kemerdekaan Indonesia dan lepas dari segala bentuk penjajahan. Foto momen proklamasi pertama ini masih tersimpan di Arsip Nasional RI, dan sering kita lihat dibuku buku sejarah maupun media lainnya. Selanjutnya adalah acara pembacaan Teks Proklamasi oleh ketua DPR, lalu kemudian hening cipta dan pembacaan Doa oleh Menteri Agama.
Kemudian acara inti lainnya adalah Pengibaran sang saka Merah Putih oleh Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) yang terdiri dari siswa siswi pilihan dari berbagai provinsi beserta pasukan pengaman presiden (Paspampres). Kalau saya perhatikan, sepertinya formasi para pasukan pengibar bendera itu nampak rumit, kadang ada pasukan bersatu dengan pasukan lain, kadang berpencar. Saya juga melihat cara jalan para paskibraka ini nampak aneh, terkadang kaki kanan dan tangan kanan bersamaan diangkat, tapi mungkin memang begitulah seharusnya untuk paskibraka. Pembawa baki untuk bendera pusaka pagi itu adalah seorang siswi bernama Maria Felicia Gunawan, siswi keturunan Tionghoa dari kelas XI SMAK Penabur, Gading Serpong, Provinsi Banten. Tugas yang tentu sangat berat karena tidak boleh ada kesalahan sedikitpun, namun berhasil diemban sehingga pastilah orangtua dan keluarganya bangga akan pencapaiannya. Secara umum, acara pengibaran bendera pusaka berjalan sukses. Yang sedikit agak mengganggu, yaitu banyaknya peserta upacara yang mengabadikan momen itu dengan kamera digital atau handphone mereka sambil berdiri dan tanpa peduli orang yang ada dibelakangnya. Setelah pengibaran bendera selesai, berturut turut acara pelepasan pesawat tempur TNI, yang melintas diatas Istana Negara. Kami yang duduk ditribun bagian tengah hanya mampu menyaksikannya lewat layar monitor. Suara mesin pesawat TNI itu memekakan telinga. Acara selanjutnya dua orang murid SD kemudian membacakan “mimpi anak Indonesia”, lalu paduan suara dari Gita Bahana Nusantara yang menyanyikan lagu lagu nasional seperti (Aubade) ; Hari Merdeka, Mari Kita Bangun Nusa dan Bangsa, Gebyar Gebyar, Pancasila Rumah Kita, dan lagu medley Nusantara dari berbagai daerah dan ditutup dengan lagu Syukur. Ketika lagu Aubade ini dimulai, para peserta sudah mulai banyak yang meninggalkan tempat duduknya, untuk mengambil snack atau untuk ke toilet. Pengambilan snack-nya perlu antri dan menggunakan kupon yang ada pada undangan, karena banyaknya peserta upacara, sementara petugas dibagian snack itu kurang. Snack yang dibagikan satu kantong plastik putih berhiaskan logo 70 tahun Indonesia Merdeka, berisi dua dos kue donat, masing masing 2 buah donat tiap dos, 2 botol air mineral 750ml, dan 2 teh kemasan atau kopi kemasan. Satu kantong snack itu memang berlaku untuk dua orang peserta upacara.
Keluar dari pintu gerbang istana, kami disambut para paparazzi yang tadi memotret kami. Yang bergaya saat difoto, nampak tersenyum puas dengan foto fotonya. Saya sendiri diperlihatkan dan sedikit ‘dipaksa’ beli 4 foto ukuran 5R seharga Rp.100.000. Meskipun sebenarnya saya kurang suka dengan foto foto tersebut –sedikit menyesal tidak berpose dengan baik saat tiba pagi pagi sebelum upacara- tapi saya bayar juga dengan niat baik. Para fotografer tersebut mungkin hanya mendapat kesempatan ini setahun sekali. Rezeki mereka. Selain para tukang foto itu, juga berjajar penjual batu akik (deman batu akik belum surut rupanya), penjual makanan dan minuman, penjual souvenir pulpen dan pin KORPRI dan ASN, gantungan kunci, kacamata gelap (sun glasses) dan lain lain. Sebagian barang yang dijual itu ditulisi dengan kata kata “Para Teladan Tingkat Nasional”, dan “Istana Kepresidenan Republik Indonesia”. Kami yang dari daerah tentu saja membeli barang barang tersebut untuk dijadikan oleh-oleh untuk teman kantor. Sementara teman yang berasal dari Jakarta, nampak tidak menghiraukan para pedagang tersebut. Keseluruhan acara berlangsung selama 2 jam lebih. Para teladan yang telah mengikuti Upacara kemudian kembali ke hotel masing masing untuk melanjutkan program acara yang telah dijadwalkan sebelumnya. Keesokan harinya, kembali kami harus bangun subuh untuk berangkat ke Bogor. Para Teladan kembali dibagikan undangan Ramah Tamah dengan Presiden dan Wakil Presiden serta pejabat negara lainnya di Istana Bogor. Pada undangan bertuliskan acara “SILATURAHMI DENGAN PASUKAN PENGIBAR BENDERA PUSAKA, PASUKAN KEHORMATAN TARUNA AKADEMI TNI DAN AKPOL, PADUAN SUARA DAN ORKESTRA GITA BAHANA NUSANTARA, DAN PARA TELADAN NASIONAL”. Pada acara ini , peserta silaturahmi duduk dialam terbuka Kebun Raya Bogor, sebagian mendapat tempat yang teduh karena dekat dengan pepohonan, sebagian lagi terpaksa berpanas panas. Namun demikian panasnya mentari tidak terlalu terasa, karena mungkin udara sejuk kota Bogor.
Acara utama di halaman belakang Istana Bogor ini, selain perbincangan antara presiden dengan wakil para teladan dan pasukan juga ada sessi foto bersama dengan Presiden, Wakil Presiden dan para pejabat negara lainnya. Pengambilan foto ini berbeda dengan foto para teladan tahun tahun sebelumnya, yang biasanya didalam ruangan Istana Negara. Tahun ini, dilaksanakan diluar ruang, yaitu di halaman belakang Istana Bogor yang ada di Kebun Raya Bogor. Seusai acara Silaturahmi, kami kemudian berkumpul di Pusat pendidikan dan Pelatihan ANRI di Bogor. Disitu kami makan siang dan shalat Dhuhur lalu kemudian balik ke Jakarta. Di Jakarta, kami berkunjung ke Diorama ANRI di Jl. Ampera Raya, Cilandak, dan juga gedung Arsip di Gajah Mada. Sungguh pengalaman yang tak terlupakan. Kesempatan langka yang tidak semua orang mendapatkannya yaitu mengikuti acara Peringatan HUT Proklamasi di Istana Negara dan menyaksikan secara langsung, Presiden (Sumber gambar: koleksi pribadi, national.tempo.co., dan dari google image)

Thursday, October 29, 2015

Menikmati Kereta Commuter Line di Jakarta

Bagi saya yang berasal dari Indonesia bagian Timur, menggunakan moda transportasi kereta api atau kereta listrik adalah sesuatu yang langka. Di Indonesia bagian Timur, tidak satupun kota yang memiliki moda transportasi kereta. Sebenarnya dulu di Makassar berdasarkan catatan sejarah, sekitar 1930an – 1950an terdapat jaringan kereta yang menghubungkan antara Makassar dengan kota kecil Takalar yang berjarak sekitar …. Km. Jaringan kereta tersebut dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda untuk tujuan pengangkutan tebu untuk industri gula. Namun sekarang ini, tak ditemukan lagi sisa sisa rel atau stasiun kereta di kota Makassar. Baru pada tahun ini (2015) disetujui rencana pembangunan jalur kereta api trans Sulawesi yang kelak akan menghubungkan antara Makassar – Manado, dan Makassar - Kendari.
Agustus 2015 lalu, saya kembali ditugaskan ke Jakarta. Berdua dengan seorang teman kantor, kami memutuskan untuk mencoba menggunakan moda transportasi kereta “Commuter Line” yang memang belum pernah kami coba di Jakarta. Pertama kali saya naik kereta ketika kuliah di Sydney, Australia beberapa tahun lalu. Di Jakarta juga pernah naik kereta, tetapi saat itu untuk perjalan jauh, yaitu Jakarta – Bandung (2005) dan Jakarta – Surabaya (2013). Jenis kereta dalam kota Jakarta dan kota sekitarnya yang disebut “commuter line” sama sekali belum saya coba, meskipun kami hampir setiap tahun ke Jakarta, baik karena tugas kantor maupun untuk urusan pribadi.
Setelah urusan dinas selesai di kantor Arsip Nasional RI di Jl. Ampera Raya, kami pun bertanya kepada salah seorang staf ANRI tentang bagaimana caranya kalau akan menggunakan kereta ke Tanah Abang. Sebagaimana yang dijelaskan, dari depan kantor ANRI di Jl. Ampera Raya, kami naik angkot (angkutan kota) menuju Stasiun Mangga Besar. Di Stasiun Mangga Besar, kami mencari informasi dengan cara bertanya langsung kepada satuan pengamanan (satpam) di stasiun, lalu kami beli tiket di loket kereta. Kami masing masing mendapatkan kartu kereta yang digunakan untuk membuka pintu palang otomatis stasiun dengan cara menempelkan kartu tersebut. Setelah di peron, kami pun menunggu. Calon penumpang lainnya sudah banyak yang menunggu. Calon penumpang dari berbagai kalangan; ada pegawai, ada ibu rumahtangga, pemuda, orang tua dan anak anak bahkan ada beberapa pemuda yang saya dengan berbicara dalam bahasa Thailand. Tak berapa lama kemudian, kereta yang kami tunggu datang. Bergegas kami menaiki kereta. Semua lancar lancar. Suasana dalam kereta juga tidak terlalu ramai. Mungkin karena masih pukul 2 siang. Kami dapat tempat duduk. Kalau saya perhatikan, dalam kereta, tidak banyak disediakan tempat duduk. Sepertinya memang hanya disiapkan bagi penumpang untuk berdiri saja, karena banyak tali tempat pegangan pada bagian atas. Didalam kereta, juga tersedia kursi khusus untuk ibu hamil, ibu yang membawa anak kecil, manusia lanjut usia, dan orang cacat (disabilitas). Tapi karena yang diperuntukan kursi tersebut tidak ada, maka penumpang yang duduk disitu orang muda yang masih sehat sehat saja. Pada dinding dalam gerbong kereta, juga tersedia jalur jalur kereta dengan petunjuk yang cukup jelas. Termasuk nama nama stasiun, tujuan kereta dan dimana mesti ganti kereta. Juga cukup banyak petunjuk tanda “larangan”, mulai dari larangan membawa hewan, larangan makan minum, merokok, petunjuk hati hati agar tangan danbadan tidak terjepit dipintu kereta dan petunjuk lainnya. Termasuk juga banyak iklan iklan yang menempel didinding kereta, yang akhirnya membuat kereta nampak kurang bersih dan kumuh.
Ternyata menaiki kereta Commuter Line di Jakarta membawa kita ke berbagai daerah. Kereta Commuter Line ini selain melewati jalan protokol dan jalan utama dan juga melewati kawasan kumuh tempat para pemulung dan pengemis tinggal. Setelah melewati banyak stasiun, akhirnya kamipun sampai ke stasiun Tanah Abang. Sebelum kereta sampai ke stasiun Tanah Abang, kereta berhenti. Lewat pengeras suara, masinis (atau kondektur?) mengumumkan bahwa kereta berhenti karena menunggu waktu giliran memasuki stasiun. Ternyata jadwal kedatangan kereta distasiun ini cukup padat. Dari Stasiun Tanah Abang, kami jalan kaki ke pusat perdagangan Tanah Abang. Kami jalan kaki karena mengira jarak dari stasiun ke Pasar Tanah Abang dekat. Tapi ternyata cukup melelahkan juga untuk jalan kaki. Apalagi kami jalan kaki melewati jalanan umum, bukan lorong atau gang.
Sore hari setelah selesai berbelanja di Tanah Abang, kami kembali ke stasiun. Kami tetap jalan kaki tapi kali ini kami lewat gang sempit yang merupakan jalan pintas dari Pasar Tanah Abang ke Stasiun Tanah Abang. Sesampainya kami di stasiun, ternyata stasiun penuh sesak dengan calon penumpang. Saya jadi agak khawatir, jangan sampai tidak dapat tempat. Tujuan kami adalah stasiun Duren Kalibata. Ketika kereta tiba, ternyata benar dugaan saya, kereta penuh. Mungkin karena waktu pulang kerja bagi sebagian besar penduduk Jakarta. Meskipun penuh, ternyata kereta tetap berhenti seperti biasa, dan tetap buka pintu. Penumpang yang hendak turun, malah banyak yang terdorong masuk oleh penumpang yang akan naik. Untung waktunya cukup untuk naik dan turunnya penumpang. Kami berusaha memasuki gerbong dengan susah payah karena banyaknya penumpang.
Gerbong kereta yang kami naiki, penuh sesak. Bahkan untuk mencari pegangan tangan bagi penumpang yang berdiripun susah. Untungnya dalam kereta ada kipas dibagian atas sehingga tidak terasa panas, tapi tetap saja tersiksa karena himpitan badan para penumpang lainnya. Saking sesaknya, ada seorang penumpang perempuan paruhbaya, jatuh pingsan yang akhirnya diberi tempat duduk oleh penumpang lainnya. Ketika kereta berhenti pada salah satu stasiun kereta, saya berharap, penumpang akan berkurang, karena sebagian pasti turun. Ternyata dugaanku meleset. Ada yang turun, tapi sedikit. Penumpang yang merangsek naik jauh lebih banyak. Saya merasa semakin tersiksa. Baru kali ini saya merasa terhimpit dan terjejal bagaikan ikan sarden dalam kaleng. Karena banyaknya penumpang yang naik saat kereta singgah distasiun, saya semakin terdesak menjauh dari pintu kereta, dan semakin jauh terpisah dengan teman kantor. Saat mengetahui stasiun Duren Kalibata semakin dekat, saya pun berusaha merangsek mendekati pintu keluar. Saya tidak ingin, penumpang yang naik nantinya akan menyusahkan saya turun dari kereta. Akhirnya tibalah di stasiun Duren Kalibata. Dengan cepat, saya memberi kode keteman, bahwa sudah sampai, dan mengambil tas ransel yang dari tadi kujepit diantara kedua kaki, karena takut kecopetan. Dengan susah payah dan penuh perjuangan, akhirnya kami berhasil juga turun dari kereta.
Dari pengalaman naik kereta Commuter Line di Jakarta, saya berkesimpulan bahwa; kereta Commuter Line hanya nyaman digunakan pada siang hari. Pagi dan sore hari ketika waktu pergi dan pulang kantor sangat jauh dari rasa nyaman, aman dan manusiawi. Pemerintah daerah khusus Ibukota sudah seharusnya menyediakan sarana transportasi yang lebih baik lagi, agar mobilitas penduduknya akan semakin lancar. Transportasi yang lancar, nyaman, aman dan manusiawi tentu akan meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan para penduduknya. Kapankah itu terwujud? Entahlah! Saya bukan penduduk Jakarta, dan dikampung halamanku di Sulawesi sana, kami belum menikmati sarana transportasi kereta. (Sumber gambar: krl.co.id., rumah123.com., tribunnews.com., tempo.co., wikipedia.org., beritasatu.com., satulayanan.id)

Mengenang Setahun Kepergian Asdar Muis RMS

“Buat Temanku Suharman Musa, ‘Ketelitianmu kurindukan!’” Itulah seuntai kalimat yang ditulis oleh pak Asdar Muis dibagian sampul dalam, buku Mata Air Peradaban, Memorial Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo yang disertai tandatangannya. Tidak banyak buku tulisan pak Asdar yang kumiliki, hanya 3 buah buku. Yang pertama adalah “Andi Muhammad Rum, Titisan Colliq Pujie”, yang kedua “Eksekusi Menjelang Subuh” dan yang ketiga “Mata Air Peradaban, Memorial Gubernur Syahrul Yasin Limpo”. Namun yang istimewa dan berkesan bagi saya adalah karena semua bukunya ditandatangani dan dibubuhi kalimat pesan untukku. Saya memang selalu berusaha memiliki tandatangan (signature) penulis/pengarang (author) dari buku koleksi saya. Setiap kali ada kesempatan ‘book signing’ saya akan berusaha mendapatkan buku yang bertandatangan. Di negara maju, buku yang ada tandatangan penulisnya memiliki ‘nilai’ lebih dibanding dengan buku yg tanpa tandatangan. Pada buku “Eksekusi Menjelang Subuh” yang dihadiahkan kepada saya ketika pertama kali berkenalan, beliau menggoreskan kalimat setelah tandatangannya, “Asdar Muis RMS, Mks 22 Maret 2012, buat Yth..Bapak Suharman, “Alhamdulillah aku senang Berteman.”
Saya sebenarnya belum lama berkenalan dan berinteraksi dengan pak Asdar Muis, meskipun saya sudah lama mengenal namanya sebagai seorang seniman dan penulis. Pertama kali bertemu muka pada 20 Agustus 2010. Pada hari itu adalah peluncuran dan bedah buku yang ditulisnya berjudul “Andi Muhammad Rum, Titisan Colliq Pujie”. Buku itu merupakan buku biografi mantan bupati Barru Andi Muhammad Rum. Peluncuran perdana buku tersebut dilaksanakan dikantor kami Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (BPAD) Prov. Sulsel di Tamalanrea. Sebagaimana biasanya, setiap kali peluncuran buku, maka akan dibagikan pula buku tersebut kepada peserta bedah buku. Sesaat setelah acara bedah buku selesai, saya dan beberapa peserta yang telah memiliki buku baru, mengelilingi pak Asdar untuk meminta tandatangannya dibuku tersebut. Karena banyak yang mesti ditandatangani, pak Asdar waktu itu hanya menulis namanya, tandatangannya dan tanggal hari itu. Kartu nama beliau juga dibagikannya, kartu nama berlatar belakang warna hitam dengan foto beliau dan tulisan “Komunitas Sapi Berbunyi” dan data pribadi beliau tertera dikartu itu.
Setelah acara bedah buku tersebut, saya tidak pernah bertemu lagi dengan pak Asdar, sampai dua tahun lamanya. Tahun 2010 itu pertama kali bertemumuka (face to face) dengan pak Asdar namun kami sama sekali tidak berbincang dan berkenalan. Baru kemudian pada tahun 2012 ketika kantor kami berkerjasama dengan beliau dalam rangka penerbitan buku memorial pak Gubernur Syahrul Yasin Limpo. Pak Asdar cukup sering kekantor kami dalam rangka membicarakan buku tersebut dan bertemu dengan pejabat struktural di kantor Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (BPAD). Pada suatu hari atasan saya pak H. Andi Ahmad Saransi yang sudah lama mengenal pak Asdar Muis, memperkenalkan saya kepada beliau. Pak Aji (panggilan kami kepada H. Andi Ahmad Saransi) mengatakan “ini pak Suharman Musa, staf kami disini, lulusan S2 dari luar negeri”. Sejak saat itu, kami sering berinteraksi akrab di jejaring sosial Facebook, dan juga beliau sering menelpon, atau sms atau lewat pesan di Facebook, menanyakan kepada saya jika ada kata kata asing yang kurang jelas baginya. Menurut saya, pak Asdar itu orangnya perfeksionis dalam hal penulisan, sehingga, setiap pilihan katanya, harus benar benar tepat dan benar benar dia pahami arti dan maknanya sebelum mengunggahnya (upload) di jejaring sosial. Terkadang malam hari ketika beliau sedang nongkrong di Kafe atau Warkop menulis, dia menelpon saya dan menanyakan makna dan pengertian suatu kata asing, terutama kata kata yang merupakan serapan dari bahasa Inggris. Ketika pak Asdar membuat fan page ‘Asdar Muis RMS Corner’ di Facebook saya juga langsung jadi anggota. Fan Page ini adalah kumpulan tulisan pak Asdar, baik yang bertema tanaman Herbal, kisah kehidupan, kritik sosial, renungan hidup ataupun cerita lucu antara bapak dan anak.
Interaksi kami lewat media sosial Facebook cukup intens. Terkadang tulisan yang sama muncul dua kali dalam akun Facebook saya, karena selain sebagai anggota fan page-nya, beliau juga seringkali men-tag (menandai) saya pada tulisan tulisannya. Hampir semua postingannya saya baca dan berusaha memberikan komentar. Terkadang, meskipun saya sudah berkomentar tulisannya, namun kami masih saja sering membahasnya lewat sms, chat atau telepon. Saya juga sering bertanya kepada beliau jika ada kata yang menurut saya salah penempatan, meskipun akhirnya pak Asdar-lah yang benar karena buku Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)-lah yang menjadi acuannya dalam menulis. Kosa kata baru (bagi saya) kadang kutemukan dalam tulisannya, dan biasanya saya akan buka dan mengonfirmasikan ke KBBI-ku. KBBI yang kumiliki adalah yang dalam format pdf. (buku elektronik).
Suasana saat Pameran Lukisan dan Patung dirumah pak Asdar Muis RMS. Hal lain yang membuat kami sering berkomunikasi lewat jejaring media sosial dan telepon, karena kami mendukung calon presiden yang sama ketika Pemilihan Presiden yang baru lalu (Juni 2014). Ketika ada berita yang tidak benar dimedia sosial dan media daring lainnya tentang calon presiden dukungan kami, biasanya kami diskusikan baik lewat chatting atau sms. Hal lain yang membuat saya sering kontak dengan beliau adalah produk herbal. Dirumah beliau (yang disebutnya ‘rumahku panggungku’) juga berfungsi sebagai Apotek, dan cukup banyak obat herbal yang dijual. Saya juga sering membeli madu dari pak Asdar. Sebagai seorang yang ‘banyak tahu’ soal herbal dan istrinya juga sebagai apoteker, saya percaya kalau madu yang dijual di Apotek pak Asdar asli. Kalau saya pesan madu lewat sms atau chat Facebook, beliau akan mengantarkannya dikantorku. Kadang kadang anak perempuannya yang singgah mengantarkan madu. Pernah pula saya sendiri mengambil madu dirumah beliau di Sudiang.
Hanya sekali saya berkunjung kerumah beliau di Sudiang. Waktu itu bertepatan dengan diadakannya pameran lukisan dan patung dirumah pak Asdar. Karena beberapa kali foto lukisan dan suasana pameran dipajang di Facebook-nya, saya jadi tertarik untuk berkunjung, sekalian mengambil madu pesanan saya. Pameran rumahan yang mencoba memberikan wadah bagi para seniman Makassar dan sekitarnya untuk berkarya dan berpameran. Waktu itu cukup lama saya keliling perumahan itu mencari alamat, meskipun sebenarnya saya sudah lewati sebelumnya. Pak Asdar sendiri keluar menjemput dan memandu saya lewat telepon seluler. Hasil kunjungan saya ke Pameran Lukisan ini sudah kutulis untuk kuposting di blog-ku. (Lihat Pameran Lukisan Rumahan, pada bagian lain blog ini).
Masih tentang pertemanan kami di dunia maya lewat media sosial, suatu ketika saya berekperimen, mengganti aksara nama saya di akun Facebook dari aksara Latin ke Arab. Sesuatu yang kemudian kusesali, karena pak Asdar dan beberapa teman Facebook lainnya kemudian mengira saya keluar dari jaringannya atau mengira saya sudah tidak aktif lagi. Lewat telepon beliau menanyakan tentang hal itu dan saya jelaskan permasalahannya. Pak Asdar juga mengaku kesulitan untuk men-tag (menandai) nama saya kalau ada postingannya. Ketika saya akan mengembalikan aksara namaku ke Latin, ternyata Facebook menolaknya, karena katanya, baru saja diganti. Meskipun demikian, saya tetap dapat membaca semua tulisan tulisan beliau, meskipun namaku tidak di-tag. Tetapi seiring perjalanan waktu, dan karena seringnya saya memberi komentar pada postingannya, akhirnya pak Asdar mengenali akun Facebook-ku meskipun dalam aksara Arab sehingga interaksi kami tetap terjalin lancar. Suatu malam ditanggal 27 Oktober lalu, beberapa menit lewat jam 00, saya terbangun dan membuka akun Twitter. Saat itu ada Twit dari seniman Butet Kertaredjasa yang saya follow berbunyi: “Selamat jalan sahabatku Asdar Muis. Selamat memuisi disono. Ooh….siapa lagi yang bersedia menemani aku tamasya lidah di Makassar?” 12.51 27Oct2014 from Kasihan, Bantul. Saya jadi berdebar dan panik, sayapun segera mengontak lewat sms atasan saya pak Haji Saransi menanyakan kebenaran beritanya, dan beliau mengiyakan. Innalillahi Wainna Ilaihi Rajiun. Saya mengenal dekat dan berinteraksi dengan beliau hanya dua tahun, itupun 90 persen interaksinya di dunia maya, namun beliau meninggalkan kesan yang begitu mendalam. Beliau tulus dalam berteman dan meskipun cukup terkenal di Sulawesi Selatan, namun beliau tetap rendah hati. Beliau tidak terlalu suka formalitas, misalnya tetap bercelana pendek dan berkaus (T-shirt) ketika menemui pak Gubernur dikantornya. Begitupula kalau menemui pejabat pejabat lainnya di Makassar. Namun begitulah pak Asdar. Sejak kepergiannya, beranda dan dinding Facebook-ku terasa sepi. Cukup banyak postingan yang muncul, namun jarang yang kualitas dan kuantitasnya seperti postingan pak Asdar. Satu hal yang saya kagumi dari postingan pak Asdar adalah bahwa beliau tak pernah salah tulis, meskipun satu huruf-pun. Pilihan katanya (diksi) tepat dan kalimatnya tersusun rapi dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar. Mungkin karena beliau juga wartawan. Interaksi kami terakhirkali di jejaring sosial Facebook, ketika beliau memposting tentang kantuk yang melandanya saat mengikuti perkuliahan. Beliau sedang ikut kuliah S3 di Universitas Hasanuddin. Saat itu saya menginformasikan tentang ‘kopi lanang’ yang konon sangat kuat kafeinnya. Ada juga postingannya tentang ‘batu mulia’ yang memajang fotonya jemarinya mengenakan cincin berbatu mulia. Dua postingan inilah yang merupakan postingan terakhir beliau sebelum wafat. Hari ini Selasa 11 November 2014, dua pekan sudah sejak kepergiannya, namun curahan hati anggota keluarganya, sahabatnya, kerabatanya dan orang orang yang mengenal beliau tetap mengalir di-akun Facebooknya. Kini tak ada lagi postingan dari pak Asdar, namun tulisan orang orang yang pernah mengenal beliau tetap menghidupkan akun facebooknya. Bukan saya saja yang kehilangan beliau, institusi kami juga merasa kehilangan, karena beliaulah yang selalu menjadi narasumber setiap kali lembaga kami mengadakan pelatihan teknis penulisan. Ilmu pengetahuan tentang penulisan telah banyak tercurah kepada para peserta pelatihan dilembaga kami, terutama kepada para Pustakawan. Semoga amal jariyah yang ditinggalkannya bernilai pahala baginya. Amin Ya Rabbal Alamin. Paccinongan 11 November 2014 Catatan: Tulisan ini adalah bagian dari buku Obituary Asdar Muis RMS, yang diterbitkan untuk mengenang setahun wafatnya Asdar Muis RMS. Dari halaman 248 -254. (Gambar: koleksi pribadi, harnas.co.,)