Sunday, December 7, 2014

Hari Jadi Provinsi Sulawesi Selatan

Bulan Oktober lalu diperingati hari jadi ke-345 provinsi Sulawesi Selatan yang dipusatkan di Lapangan Andi Mattalatta (Mattoanging) Makassar. Menjadi pertanyaan kita bersama sebagai warga Sulawesi Selatan, betulkah Sulawesi Selatan terbentuk pada tanggal 19 Oktober 1669? Betulkah bahwa pada tanggal 19 Oktober 1669 terjadi kesepakatan diantara para raja di Sulawesi Selatan untuk membentuk satu provinsi yang disebut Sulawesi Selatan? Adakah bukti sejarahnya? Adakah Arsipnya? Adakah Surat Keputusan dari pemerintah Kolonial Belanda waktu itu untuk menentukan pembentukan Provinsi Sulawesi Selatan? Bukankah pada tahun 1669, daerah daerah masih berdiri sendiri sebagai kerajaan, meskipun sebagian sudah dikuasai oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda? Bukankah pada tahun itu, belum dikenal nama Sulawesi? Juga kemungkinan belum dikenal kata ‘Selatan’, karena masing masing daerah menggunakan bahasa daerahnya masing masing? Dari berbagai sumber disebutkan bahwa, peringatan hari jadi Sulawesi Selatan pertama kali dilaksanakan pada tanggal 19 Oktober 1995 pada masa kepemimpinan Gubernur H.Z.B. Palaguna. Peringatan pertama itu adalah peringatan Hari Jadi Provinsi Sulawesi Selatan yang ke 326. Hari Jadi (Ulang Tahun) Sulawesi Selatan ditentukan oleh musyawarah dan mufakat para sejarahwan, budayawan dan para pemimpin tertinggi ditingkat Provinsi. Sebelum penentuan hari jadi, diadakan seminar, musyawara dengan tokoh masyarakat dan diambil kesimpulan bahwa ada peristiwa penting yang terjadi pada tanggal 19, juga terjadi peristiwa penting lainnya pada bulan Oktober, dan juga pada tahun 1669. Akhirnya disepakatilah bahwa pada tanggal 19 Oktober 1669 adalah hari jadi Provinsi Sulawesi Selatan. Namun penentuan hari jadi seperti ini mungkin tidak terlalu meyakinkan kita masyarakat Sulawesi Selatan pada umumnya. Alasannya, tanggal, bulan dan tahun hanya ditentukan dan digabungkan karena adanya kejadian atau peristiwa penting, bukan karena tepat pada tanggal itu ada arsip, naskah atau lontara yang menyebut lahirnya provinsi. Contoh penentuan hari jadi Gowa jauh lebih meyakinkan dengan legitimasi yang kuat karena adanya naskah Lontara kerajaan sebagai dasar penentuan. Kalau ditinjau dari segi bukti arsip yang otentik dan terpercaya maka Hari Jadi Provinsi Sulawesi Selatan adalah tanggal 23 September 1964 sesuai dengan tanggal penetapan Undang Undang No. 13 Tahun 1964 Tentang Pembentukan Provinsi Sulawesi Selatan. Sebelumnya, Sulawesi bagian Selatan pernah menjadi bagian dari Negara Indonesia Timur (NIT). Kemudian terbentuk lagi Provinsi Sulawesi, dimana waktu itu belum ada pembagian Utara, Selatan, Tenggara dan Tengah. Gubernurnya adalah Dr. G. S. Ratulangi. Kemudian terbentuk provinsi Sulawesi Selatan Tenggara dan disingkat Sulselra, dan akhirnya Sulawesi Selatan Tenggara terpisah menjadi 2 provinsi, yaitu Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara. Di era reformasi, Sulawesi Selatan kemudian dimekarkan menjadi dua provinsi yaitu Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat. Pertanyaanya sekarang adalah, mengapa para tokoh masyarakat Sulawesi Selatan tidak menggunakan tanggal 23 September 1964 sebagai hari lahir Provinsi Sulawesi Selatan? Apakah usia yang baru 50 tahun pada tahun ini (2014) dianggap kurang menguntungkan atau kurang bergensi? Apakah usia yang ratusan tahun suatu daerah dianggap jauh lebih baik, lebih bersejarah? Lalu bagaimana dengan kesejahteraan rakyatnya? Secara logika, jika suatu daerah secara resmi sudah berusia ratusan tahun, seharusnya rakyatnya sudah sejahtera semua, tidak ada warga miskin, sedikit kriminal, kurang pengangguran, sarana dan prasarana serta infrastruktur memadai. Kalau usia ratusan tahun tapi penduduknya masih ribuan atau bahkan jutaan pendudukanya masih hidup dibawah garis kemiskinan, pasti perlu dipertanyakan, apa saja yang dilakukan oleh para pemimpinnya silih berganti selama ratusan tahun itu? Bagi suatu daerah yang perlu diperhatikan bahwa biarpun hari jadi baru puluhan tahun, kalau rakyatnya sejahtera, maka akan jauh lebih baik dibanding daerah yang usianya ratusan tahun tapi masih banyak warganya yang miskin dan tidak mendapatkan pendidikan. Kesejahteraan rakyat, itu yang terpenting, bukan usia yang ratusan tahun yang hanya akan diperingati tiap tahun secara seremonial tanpa menyentuh hak hak kebutuhan dasar rakyatnya yaitu sandang, pangan, perumahan, pendidikan dan kesehatan. (Sumber Gambar; balitbangda.provsulsel.go.id)

Hari Jadi Daerah Daerah di Sulawesi Selatan

Setiap daerah di Indonesia, baik daerah kabupaten, kota, dan provinsi hampir semua memiliki tanggal istimewa yaitu tanggal yang diperingati tiap tahun sebagai hari Ulang Tahun Daerah. Daerah yang belum memiliki tanggal hari jadi biasanya akan berusaha merumuskan dan menentukan tanggal hari jadinya. Ada kecenderungan setiap daerah menginginkan harijadi atau ulangtahun yang ratusan tahun. Kabupaten dan kota di provinsi Sulawesi Selatan ada yang usianya sudah mencapai ratusan tahun. Misalnya kota Makassar yang pada tahun 2013 lalu memperingati ulang tahunnya yang ke 406 pada tanggal 9 November. Sementara pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan pada tanggal 19 Oktober 2013 lalu juga memperingati ulangtahun ke 344 secara meriah diseluruh kabupaten kota se Sulawesi Selatan.
Daerah kabupaten kota di Sulawesi Selatan juga memperingati hari ulangtahun setiap tahun pada tanggal yang berbeda beda. Namun ada juga yang memperingatinya secara bersamaan yaitu daerah pemekaran yang memang bersamaan dibentuk dan disahkan Undang-Undangnya oleh DPR. Usia daerah pemekaran rata rata masih muda, bahkan ada yang baru ber’harijadi’ ke 10, tahun 2013 lalu misalnya Kabupaten Luwu Utara yang merupakan hasil pemekaran kabupaten Luwu. Kabupaten Toraja Utara juga belum berusia 5 tahun sejak dimekarkan dari kabupaten induknya Tana Toraja. Namun ada beberapa daerah kabupaten yang usianya mencapai ratusan tahun yaitu kabupaten dan kota yang pada masa pra-kemerdekaan adalah kerajaan besar. Misalnya: 1. Kabupaten Gowa. Kabupaten Gowa dulunya merupakan kerajaan terbesar di wilayah timur Nusantara. Tahun lalu tepatnya tanggal 17 November 2013, Gowa memperingati hari jadinya ke 693. Dasar penentuan hari jadi Gowa cukup jelas berdasarkan naskah Lontara Kerajaan. Dalam naskah koleksi kerajaan Gowa disebutkan bahwa tanggal 17 November 1320 adalah hari penobatan Karaenta Tumanurung Bainea sebagai Sombaya Ri Gowa I. 2. Kabupaten Sinjai. Kabupaten Sinjai dulunya adalah gabungan kerajaan kecil yang juga berdasarkan naskah Lontara terbentuk pada tahun 1564. Namun tanggal dan bulan terbentuknya tidak diketahui, namun harijadinya diperingati setiap tanggal 28 Februari.
3. Kabupaten Bone, dulu termasuk kerajaan besar di Sulawesi Selatan. Pada tanggal 6 April 2013 lalu pemerintah Kabupaten memperingati hari jadinya yang ke 683. 4. Kabupaten Wajo. Penentuan hari jadi kabupaten Wajo menggabungkan dua peristiwa penting yang terjadi di masa lampau, yaitu; berakhirnya peperangan terakhir Lamaddukkelleng di Lagosi yang mampu memukul mundur pasukan kompeni Belanda yang terjadi pada tanggal 29 Maret. Sementara tahun kelahiran Wajo ditetapkan pada tahun 1399 yaitu waktu pelantikan Batara Wajo pertama Latenribali dibawa pohon bajo. 5. Kabupaten Luwu termasuk termasuk bekas kerajaan besar diera pra-kemerdekaan. Pada tanggal 21 Januari 2014 tahun ini diperingati sebagai hari jadi kabupaten Luwu ke 745.
6. Kabupaten Soppeng. Dari beberbagai informasi tentang hari jadi daerah, mungkin inilah salahsatu kabupaten bekas kerajaan tertua di Sulawesi Selatan. Kabupaten Soppeng memperingati hari jadinya yang ke 752 pada tanggal 23 Maret 2013. Dari sumber situs kabupaten Soppeng disebutkan bahwa, berdasarkan naskah lontara kerajaan tahun 1261 adalah pelantikan TomanurungE Ri Sekkanyilli atau Latemmalala sebagai Raja Soppeng I. Sementara tanggal hari jadi-nya ditentukan hanya berdasarkan nilai filosofis dari angka 2 dan 3 saja. 7. Kabupaten Bantaeng juga termasuk daerah tertua yang ada di Sulawesi Selatan. Pada hari Minggu 7 Desember 2014, diperingati sebagai hari jadi kabupaten Bantaeng yang ke-760 tahun. Dari website Pemkab Bantaeng menyebutkan bahwa penetapan hari jadi Bantaeng berdasrkan bahwa tanggal 7 (tujuh) menunjukkan simbol Balla Tujua di Onto dan Tau Tujua yang memerintah dimasa lalu, yaitu: Kare Onto, Bissampole, Sinowa, Gantarangkeke, Mamampang, Mamampang, Katapang dan Lawi-Lawi. Bulan 12 (dua belas), menunjukkan sistem Hadat 12 atau semacam DPRD sekarang yang terdiri dari perwakilan rakyat melalui Unsur Jannang (Kepala Kampung) sebagai anggotanya yang secara demokratis mennetapkan kebijaksanaan pemerintahan abersama Karaeng Bantaeng. Tahun 1254 ditentukan tahun kelahiran Bantaeng karena pada catatan kerajaan Singosari telah tercatat adanya perdagangan dengan Bantaeng pada masa itu. Ketujuh daerah tersebut diatas rata rata berusia ratusan tahun. Makassar ketika masih bernama Ujungpandang, hari jadinya diperingati setiap tanggal 1 April, karena berdasarkan Arsip yang ada, tanggal 1 April 1906 adalah tanggal terbitnya Surat Keputusan pemerintah kolonial Belanda yang menjadikan Ujungpandang sebagai gemeente (kotamadya). Nama Ujungpandang berubah kembali menjadi Makassar pada tahun 1999 dan memperingati harijadinya setiap tanggal 9 November. Tahun 2014 ini diperingati sebagai hari jadi Makassar yang ke-407. (Sumber gambar: rakyatbersatu.co.id, bone.go.id dan sulselprov.go.id)

Wednesday, December 3, 2014

Pameran Seni Rumahan di Makassar

Beberapa waktu lalu, pada suatu hari dibulan Mei 2014 lalu, saya berkesempatan mengunjungi pameran seni rupa yang dilaksanakan di “Rumahku Panggungku” rumah salah seorang seniman penulis dan budayawan Makassar, Bapak Asdar Muis RMS di kompleks Perumahan Bukit Hartaco Indah, kawasan Sudiang, Makassar. Pamerannya berlangsung dari 25 – 31 Mei 2014, namun menurut Asdar Muis RMS dapat diperpanjang jika situasi memungkinkan, misalnya masih banyak pengunjung, baik perorangan maupun rombongan anak sekolah.
Pameran seni ini adalah pameran seni rupa dan seni patung, meskipun patung yang dipamerkan hanya sedikit dibandingkan dengan lukisan. Pameran seni yang berskala kecil karena hanya dilaksanakan dirumah, bukan di gedung megah, bukan di gallery seni, bukan di museum atau convention centre. Tempat pameran ini bergilir dari ke rumah para seniman Makassar. Pengunjungnya pun bermacam macam, mulai dari tetangga, kenalan, perorangan sampai rombongan pelajar dan mahasiswa, termasuk juga group dari luar Sulawesi.
Tujuan pameran ini menurut Asdar Muis, selain sebagai wadah pemersatu para seniman, juga wadah silaturrahim dan terutama untuk ‘saling menggelitik’ agar terus berkarya. Ada 29 orang perupa/ pelukis yang berpartisipasi pada pameran rumahan di rumah Asdar Muis. Mereka adalah: Ahmad Fauzi, AH Rimba, Ahmad Anzul, Amrullah Syam, Asman Djasmin, Ayu Mega, Arizal Pradana, Budi Haryawan, Azis Ahmad, Dicky Chandra, Erlan Raib, Faisal Syarif, Faisal Ua’, Firsan, Haroen P Mas’oed, Halima, Hadi Suyono, I Kadek Roy Atmika, Ishakim, Indra Aryani, Jenry Pasassang, Mike Turusi, Muhammad Suyudi, Muhammad Irwan, Muhammad Gazali, Ongky Sasongko, Renaldy, Siswadi Abustam, Suherman, Zam Kamil, Zul Fiqri, dan Zainal Beta.
"It's only Rock & Roll but I like it" Judul lukisan karya Faisal Ua, akrilik diatas kanvas. Jenis lukisan yang dipamerkan bermacam macam. Saya sebenarnya kurang memahami dan tidak terlalu bisa menilai kriteria lukisan yang baik. Yang jelas bahwa semua lukisan itu adalah lahir dari imajinasi para pelukisnya. Yang saya bisa lihat bahwa ada lukisan naturalis yaitu lukisan lukisan alam, pemandangan, pedesaan. Ada juga lukisan ekspressionis, yang merupakan lukisan yang mungkin agak susah dipahami maknanya oleh pengunjung, karena lukisan semacam itu benar benar lahir dari ekspresi batiniah para pelukisnya. Lukisan karikaturis juga ada dipamerkan, yaitu lukisan para penyanyi barat yang dibuat seperti karikatur.
Media lukis juga ada beberapa macam, ada kertas, ada kanvas. Ada yang menggunakan cat air, ada cat minyak, tinta cina, pensil, akrilik dan bahkan spidol. Seniman yang menggunakan campuran beberapa bahan juga ada. Ukurannya juga bermacam macam, ada yang besar 120 x 120 cm, 50 x 50 cm dan yg lebih kecil 35 x 25cm.
"Daeng Dali" karya AH. Rimba. Cat Minyak diatas Kanvas. Makassar sebagai kota terbesar di Indonesia bagian timur, sudah sepantasnya memiliki gedung kesenian atau tempat pameran yang representatif. Pemerintah perlu membangun wadah seperti ini, terutama karena kota Makassar diharapkan akan menjadi kota dunia. Teringat ketika tinggal di Sydney beberapa tahun lalu, disana begitu banyak art gallery dan tempat pameran seni lainnya. Ada Museum of Contemporary Art yang letaknya diseberang dari Opera House, ada juga Art Gallery of New South Wales yang terletak disebelah Royal Botanical Garden, dimana banyak lukisan yang berusia ratusan tahun dengan ukuran yang sangat besar dipamerkan. Seniman aborigin juga memiliki gallery tersendiri. Art gallery juga banyak dimiliki oleh pihak swasta dan perorangan. Semua tempat pameran benda seni ini tidak pernah sepi dari pengunjung. Dinas pariwisatanya bahkan membuat brosur khusus untuk tempat pameran seni yang ada di Sydney. Saya berharap suatu saat nanti kota Makassar memiliki suatu gedung kesenian yang berarsitektur unik dan sekaligus bisa menjadi ikon kota Makassar, sebagaimana halnya Sydney Opera House. Semoga. (Sumber Gambar: Koleksi Pribadi)

Tuesday, December 2, 2014

"Pao Jengki" Buah Mistis orang Bugis

Pernah dengar nama buah pao jengki? Pao dalam bahasa Bugis artinya Mangga, jadi pao jengki artinya mangga jengki. Kalau anda orang Bugis yang termasuk generasi muda (kelahiran 1980 dan sesudahnya) mungkin tidak pernah mendengar istilah ini. Kalaupun pernah mendengarnya, mungkin hanya sambil lalu saja dan tetap tidak memiliki gambaran tentang apa dan bagaimana buah ini sebenarnya. Bahkan orangtua kita pun kemungkinan tidak pernah melihat wujudnya dan juga hanya mendengar ceritanya dari generasi pendahulunya. Buah mistis orang Bugis. Nama Pao Jengki mulai dikenal oleh masyarakat Bugis sejak munculnya kisah I La Galigo sejak abad ke 16 atau sebelumnya. Naskah I La Galigo adalah epos terkenal dalam dunia pemikiran orang Bugis dimasa lampau yang sangat panjang, bahkan konon, naskah literatur kuno terpanjang didunia. Pada salah satu penggalan kisah I La Galigo, pada salah satu episode diceritakan bahwa Sawerigading, anak dari Batara Lattu, dan cucu Batara Guru telah berkelana kemana mana keluar Selebes (Sulawesi) termasuk ke Maluku, Sumbawa dan negeri lainnya. Bahkan Sawerigading juga berkelana kenegeri yang tidak dikenal dan mistis (keramat) dimana banyak tumbuh pohon pao jengki (Mango of Zanj). Pohon pao jengki ini tumbuh tinggi sampai ke langit dan akarnya muncul dari dunia bawah. Pohonnya tumbuh ditengah pusaran air laut yang berhubungan dengan dunia bawah itu. Demikian yg dikisahkan dari epos I La Galigo. Dalam cerita rakyat La Wellong Lajuyang telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia, sepenggal kisahnya menceritakan ; “Taletti Langi memberi aba aba untuk mengarahkan perahunya ke Cina. Perahu melaju bagaikan burung dan sampailah ditempat dimana air terjun ditengah laut yang ditumbuhi banyak pohon Pao jengki. Pada saat itu burung garuda penjaga pohon pao jengki tidak ada ditempatnya. La Wellong laju menengadah keatas dan melihat buah pao jengki, sehingga timbul keinginannya untuk memetiknya. Dia pun mengajak adiknya, Lawowo Langi untuk singgah memetik pao jengki, namun Lawowo Langi enggan karena menganggap pao jengki itu buah keramat dan ada makhluk penjaganya. Akhirnya La Wellong Laju tetap singgah dan memetik pao jengki, sementara adiknya, Lawowo Langi menunggu di perahu.” Pao jengki ini, karena dianggap sebagai buah sakti mandraguna dan keramat, maka hanya para raja yang memiliki dan meyimpan di istananya. Raja raja pada zaman dahulu kala menjadikannya semacam souvenir ketika mengunjungi kerajaan lainnya. Buah yang hanya ada dalam angan kebanyakan orang Bugis dimasa lampau bahkan sampai sekarang ini, biasanya diperhalus permukaannya dan dihiasi dengan emas dan permata serta batu mulia sebelum memberikan atau menghadiahkannya ke raja yang dikunjunginya. Di kalangan istana sendiri, pao jengki ini selain dijadikan hiasan/pajangan juga dijadikan wadah untuk pengobatan. Ketika ada orang yang sakit, misalnya muntah darah, maka pao jengki ini dijadikan wadah yang diisi dengan air yang sudah diberi jampi jampi (matra) dan kemudian diminumkan keorang sakit. Ada juga yang menjadikannya tempat sirih pinang. Beberapa waktu lalu saya berkunjung ke Istana Datu Luwu di kota Palopo. Bagian depan istana tersebut difungsikan sebagai Museum kerajaan, dan bagian belakang menjadi tempat tinggal para keturunan keluarga raja. Di Museum inilah saya sempat melihat untuk pertama kalinya wujud pao jengki ini yang dipajang dalam lemari kaca, bersama berbagai benda warisan kerajaan Luwu.
"Pao Jengki" Koleksi Museum Datu Luwu di Palopo Fakta tentang Pao Jengki Fakta tentang buah ini adalah bahwa, pao jengki (mangga jengki) sebenarnya bukan jenis buah mangga, tetapi termasuk kelas Palma (Palem) dan dikenal dengan nama kelapalaut (coco de mer/ sea coconut) atau biasa juga orang menyebutnya kelapa kembar (double coconut), karena seakan akan dua buah kelapa yang saling dempet. Bahasa latinnya adalah Lodoicea maldivica, merupakan anggota tunggal dari genus Lodoicea. Pohon ini sejenis palem yang tumbuh di pulau Praslin dan pulau Curieuse di negara kepulauan Seychelles di benua Afrika.
Awalnya buah kelapalaut dianggap buah asli dari Maladewa (Maldives), namun kebenaran asal muasal buah unik ini (dari Seychelles) ditemukan oleh Dufresne pada tahun 1768. Sebelum itu para pengelana Eropa juga menganggap kelapalaut ini adalah buah mistis. Buahnya terlalu berat untuk mengapung dilaut, dan hanya buah yang telah tua, atau berlubang yang mengapung dilaut dan sampai ke pulau pulau sekeliling Seychelles. Buah yang mengapung dilaut sudah tidak bisa lagu tumbuh atau berkecambah. Oleh karena para pelaut zaman dulu yang hanya memungutnya dilaut maka dianggaplah buah ini tumbuh didasar laut.
Sebagaimana orang Bugis dimasa lampau, bangsawan Eropa juga menjadikan buah ini sebagai koleksi berharga dan juga dihiasi dengan emas, permata dan batu mulia lainnya. Mungkin dari orang Belandalah yang memperkenalkan buah kelapalaut ini ke masyarakat Bugis. Namun bisa juga, memang orang Bugis yang sudah berkelana dilaut lepas selama berabad abad yang juga menemukannya di Maladewa, di Seychelles, Madagaskar atau negara Afrika lainnya. Ada juga yang berpendapat bahwa para pengikut Syech Yusuf yang beberapa abad yang lalu dibuang ke Afrika Selatan oleh Belanda, adalah yang pertama kali menemukan buah ini ketika mereka bolak balik ke Afrika Selatan menjenguk Syech Yusuf. Orang Melayu (atau orang Bugis yang merantau ke tanah Melayu?) juga mengenali buah ini dengan nama Pauh Janggi dan kisah penemuan dan khasiat buah ini juga sama halnya dengan orang orang Bugis. Orang Bugis dan Melayu selama berabad abad telah mengarungi samudra.
Bunga Jantan buah Kelapalaut (Coco de mer) Pohon kelapalaut tumbuh diketinggian dari 24 – 35 meter, daunnya berbentuk seperti kipas. Kelapa laut ini berjenis kelamin jantan dan betina. Kelapa laut yang jantan memiliki bunga berbentuk memanjang sampai 1 meter panjangnya. Buah kelapalaut yang matang berdiameter 40 – 50 cm dengan berat antara 15 – 30 kg dan bijinya merupakan biji buah terbesar didunia tumbuh-tumbuhan. Membutuhkan waktu 6-7 tahun untuk matang dan berbuah.
Diantara penduduk Seychelles sendiri diyakini suatu legenda tentang buah kelapalaut ini disaat badai datang, buah kelapalaut jantan dan betina akan kawin dan barang siapa yang menyaksikannya kawin maka ia akan buta seumur hidup atau mati.
Peta Negara Kepulauan Seychelles Di negara Maladewa, setiap buah kelapalaut yang ditemukan oleh warga terapung dilaut, maka penemunya harus menyerahkannya kepada raja Maladewa. Orang yang menyimpan sendiri buah ini dan tidak menyerahkan kepada raja maka akan kena hukuman mati. Kelapa Laut adalah species yang paling unik diantara enam jenis palma yang tumbuh dikepulauan Seychelles, karena satu-satunya buah yang berukuran raksasa diantara semua tanaman yang tumbuh di Seychelles. Buah kelapalaut ini menjadi icon negara Seychelles dan tercetak pada lembaran uang kertasnya. (Diolah dari berbagai sumber di Web, termasuk dari wikipedia versi Bhs. Inggris) Sumber Gambar; koleksi pribadi, willtogo.com, en.wikipedia.org, sitehoney.com, travellingtrossens.blogspot.com, dll.

Wednesday, April 16, 2014

Pancaran Sinar Petromaks

Kampung halamanku di PalattaE (Bone bagian selatan) tidak memiliki instalasi listrik sampai tahun 1979. Masih kuat tersimpan dalam kenangan dan ingatan saya keadaan pada masa itu. Meskipun belum ada listrik, tapi saat itu sudah ada beberapa keluarga yang memiliki TV hitam putih, yang menggunakan Aki (ACCU) sebagai sumber energinya. Antenna TV terbuat dari bambu yang disambung sambung dan menjulang tinggi sampai puluhan meter. Untuk menaikkan antena TV mesti mengerahkan puluhan orang, karena antenna bambu itu ditegakkan/dinaikkan dengan menarik tali di empat penjuru mata angin. Antena selalu diarahkan ke kota Sengkang di Wajo, karena hanya disana pemancar TV (TVRI) yang ada selain di Ujungpandang (Makassar) waktu itu. Radio dan radio kaset yang menjadi raja hiburan kala itu dan menggunakan baterei sebagai sumberdayanya.
Malam hari gelap karena tentu saja tidak ada lampu jalan. Penerangan jalan hanya terbantu dari pancaran sinar lampu petromaks dari sebagian rumah penduduk. Penduduk setempat menyebutnya lampu Strongkeng. Entah darimana nama tersebut diambil. Tidak semua penduduk memilikinya. Yang tidak memiliki petromaks, biasanya hanya memiliki lampu minyak biasa (sulo) atau lampu teplok minyak yang apinya terlindung semprong kaca. Kehidupan malam sebentar saja. Setelah makan malam atau shalat Isya, penduduk kebanyakan sudah tidur. Kehidupan malam benar benar berakhir setelah shalat Isya dimasjid.
Pancaran sinar petromaks. Masa kecilku dulu di PalattaE, keluargaku hanya menggunakan lampu petromaks setiap malam. Selain lampu petromaks, juga ada beberapa lampu minyak yang terbuat dari kaleng susu dan lampu minyak teplok. Lampu minyak ini biasanya kalau dinyalakan sampai pagi, maka akan menghitamkan benda benda yang ada disekitarnya, mulai dari kelambu, meja, kursi bahkan lubang hidungpun terkadang hitam. Asap yang hitam berasal dari pembakarannya sumbunya berterbangan kemana mana.
Lampu petromaks dirumah kami hanya satu, dan digantungkan diruang tamu. Saat makan malam tiba, lampu tersebut dipindahan keruang makan dibelakang. Selesai makan baru dipindahkan lagi keruang tamu. Disinilah kami berkumpul, biasanya belajar, kerja PR, ngobrol, menerima tamu, semua dilaksanakan diruang tamu yang ada lampu petromaksnya. Lampu ini menggunakan minyak tanah (kerosene) sebagai bahan bakarnya, dan terkadang meskipun masih dibutuhkan, misalnya saat ada tamu, tapi minyaknya sudah habis, perlahan lahan sinarnya akan meredup. Kalau sinarnya redup dan tangkinya dipompa, sinarnya akan terang kembali, tapi biasanya hanya sementara saja. Tamu biasanya mengerti dan pamit pulang. Yang merepotkan kala itu, adalah kalau ada acara hajatan, misalnya pesta pernikahan. Yang punya hajatan biasanya akan meminjam lampu petromaks dari tetangga. Acara pestanya biasanya siang, tapi malam hari digunakan untuk urusan masak memasak yang biasanya dilaksanakan dihalaman belakang rumah. Kalau lampu kami dipinjam tetangga, biasanya terpaksa kami menggunakan lampu minyak sebagai penerangan utama didalam rumah. Lampu senter adalah sumber penerangan lain yang praktis kala itu. Hampir semua rumah tangga memilikinya. Saat shalat subuh dimesjid, hampir semua jamaah meletakkan lampu senternya didepannya. Ketika instalasi listrik akhirnya terpasang dikampung kami, peranan lampu petromaks perlahan lahan tergeser, namun tidak secara langsung menghilang. Salah satu penyebabnya, karena listrik waktu itu hanya menyala sampai jam 10 malam. Setelah jam 10, kembali gelap gulita. Kalau masih ada beberapa kegiatan yang harus diselesaikan, maka kembali lampu petromaks dinyalakan. Seiring dengan perjalanan waktu, listrik menyala semakin lama. Kalau awalnya hanya sampai jam 10 malam, kemudian sampai jam 12 malam. Kemuadian menyala sepanjang malam sampai pagi, tapi kalau siang listrik tidak ada sama sekali, jadi hanya malam hari saja. Sekarang ini listrik sudah menyala 24 jam, meskipun kadang kadang masih mati lampu. Lampu petromaks sampai sekarang jarang saya lihat lagi. Mungkin sudah tidak ada lagi yang menggunakannya, kecuali oleh sebagian nelayan saat melaut. Masalahnya sekarang, karena harga minyak tanah semakin mahal. Zaman sekarang suasana kampung sudah terang benderang. Ada lampu penerangan dijalan dan dimana mana, dirumah, di tempat umum. Ada lampu pijar yang warnyanya agak kekuning kuningan dan kini hampir menghilang, ada juga lampu neon yang putih bersih dan hemat listrik, dan sekarang ada yang namanya lampu Led. Namun demikian…pancaran sinar petromaks dan lampu minyak masih kuat tertanam dalam memoriku saat masih anak anak dulu dikampung halaman….. Sumber Gambar: Fritz-berger.de, techthor.com, habibie-zone.blogspot.com, kartikarahmawati.wordpress.com, perkakasku.com, antaranews.com.