Tuesday, January 29, 2019

Kisah Petualangan Trim, Kucing Hitam milik Matthew Flinders



             Foto saya ini adalah foto disamping kiri gedung Perpustakaan Negara bagian New South Wales, Sydney. Dibelakang saya itu ada patung kucing hitam, seukuran kucing betulan. Namanya Trim. Trim ini adalah icon perpustakaan negara bagian New South Wales. Di dalam perpustakaan, banyak boneka Trim, juga banyak merchandise bergambar Trim, baik berupa sampul buku, bookmark (pembatasbuku), tas, pulpen, dan lain lain. Bukan cuma itu, kucing ini juga dibuatkan monument dibeberapa tempat, baik di Inggris maupun di Australia. Ada juga novel sejarah berjudul “Matthew Flinders’ Cat” ditulis oleh Bryce Courtenay yang juga menceritakan kisah sikucing hitam Trim ini. Mungkin inilah kucing yang paling dikenal didunia terutama di Inggris dan Australia. 





           Trim adalah kucing yang menjalani sepanjang hidupnya di atas kapal laut bernama HMAS Reliance. Bahkan Trim lahir dikapal ini pada tahun 1799 saat pelayaran dari Cape of Good Hope ke Botany Bay. Diatas kapal penjelajah waktu itu memang banyak kucing, karena kapal kapal tersebut berukuran besar. Ada kucing yang memang sengaja dipelihara oleh para anak buah kapal (ABK), ada juga kucing liar yang naik kekapal saat berlabuh disuatu pulau tertentu. Kucing yang dipelihara biasanya bertujuan untuk menangkap tikus yang biasa menggerogoti tali temali dan barang barang dan persediaan bahan makanan dikapal selama pelayaran.
          Matthew Flinders awalnya tidak terlalu peduli dengan keberadaan kucing kucing diatas kapal layarnya. Namun pada suatu pagi, seekor kucing hitam kecil terjatuh kelaut, namun si kucing dengan segala usahanya berhasil naik kembali ke geladak kapal melalui tali tali yang dijulurukan kebawa. Saat itulah Flinders terkesan dengan keberanian dan keuletan sikucing hitam ini dan akhirnya memberinya nama TRIM. Nama ini diambil dari judul buku Tristram Shandy karangan Laurence Sterne. 
            Sejak saat itu, Flinders bukan hanya mencatat peristiwa pelayarannya kebelahan dunia bagian selatan, tetapi juga membuat catatan khusus (biografi) untuk Trim. Ada juga puisi yang ditulisnya untuk Trim. Pada salah satu catatannya tentang Trim, Flinders menulis, “..hewan tercantik yang pernah saya lihat… bulunya hitam pekat sekujur tubuhnya kecuali diujung keempat kakinya yang putih, seakan akan baru saja dicelupkan di salju, juga sedikit warna putih dibawa mulutnya dan ada bentuk seperti bintang putih disekitar dadanya…”.
          Dalam pelayaran menuju Australia dan belahan bumi selatan lainnya, Trim selalu ada disamping tuannya, Matthew Flinders. Bahkan saat Flinders dan anak buah kapal lainnya makan, Trim juga duduk diatas meja makan dan turut makan bersama. Dalam catatan Flinders, Trim hanya sekali mencuri makanan, itupun karena mungkin dipengaruhi oleh kucing lainnya. 
          Pada suatu hari dalam pelayaran dari Australia kembali ke Inggris dengan kapal layar HMS Porpoise, kapal tersebut mengalami kerusakan dan kandas dipulau karang Great Barrier Reefs. Flinders dan para ABK dan juga Trim terpaksa berenang menuju pulau terdekat. Dipulau itu mereka tinggal selama 7 pekan memperbaiki kapal sampai mereka bisa melanjutkan perjalanan kembali. Selama terdampar dipulau itu, Trim adalah satu satunya hiburan dan penyemangat para ABK.


          Dalam pelayaran kembali ke Inggris melalui benua Afrika, Flinders dan ABK-nya bermaksud singgah di kepulauan Mauritius untuk memperbaiki kerusakan dikapan dan juga untuk membeli bahan pangan. Kepulauan Mauritius adalah kepulauan kecil di Samudra Hindia waktu itu adalah jajahan Prancis, dan Prancis sedang berperang dengan Inggris pada masa itu. Flinders-pun ditahan oleh Gubernur Mauritius dan kemudian dijadikan tahanan rumah. Selama masa ditahanan itu, Trim tetap setia pada tuannya, dan juga hidup dirumah tahanan dipulau itu, meski tetap bisa keluar masuk rumah tahanan kapan saja, dan bahkan menjelajah pulau kecil itu…  



          Cukup lama Flinders ditahan di Mauritius, yaitu selama 6,5 tahun, dan dengan setia, Trim tetap menemaninya. Namun pada suatu hari di tahun 1804, Trim keluar kealam bebas, dan tidak pernah kembali lagi, membuat Flinders galau dan stress berhari hari. Sebenarnya Flinders waktu itu mencurigai para budak budak yang kelaparan telah menangkap dan memakan kucing kesayangannya itu, meski hal ini tidak pernah terbukti. Dalam catatannya, Flinders menulis, “…telah hilang lenyap kucingku yang setia dan cerdas, Trim! Teman setia pemberi semangatku dalam petualanganku mengarungi samudra selama 4 tahun…”. Banyak catatan puisi sedih ditulis oleh Flinders sejak hilangnya Trim. Flinders berjanji kepada kawan kawannya para ABK jika suatu saat nanti bisa kembali kenegerinya, kampong halamannya, dia akan membangun manumen untuk Trim, untuk mengenang kesetiannya sang kucing hitam, Trim. 


          Sayang sekali, karena Flinders tak pernah kesampaian membangun monument untuk Trim. Namun sekarang diera modern, ratusan tahun setelah hilangnya Trim, telah berdiri beberapa monument (patung) Trim, baik di Inggris maupun di Australia. Di Australia selain di Sydney, juga ada dikota Port Lincoln, Australia Selatan.
(Diterjemahkan dan disarikan dari berbagai sumber: Wikipedia, abc.net.au. Gambar: koleksi pribadi dan abc.net.au) Novel “Matthew Flinders’ Cat” oleh Bryce Courtenay adalah koleksi pribadi)




Sunday, September 16, 2018

Gelisah selama 120 Menit!




Pernah kehilangan Hape (Handphone/Cellular Phone)? Kalau pernah pasti juga merasakan apa yang kurasakan beberapa hari lalu saat kehilangan Hape. Kaget saat pertama kali menyadari bahwa hape tidak ada lagi, khawatir, cemas dan juga berharap akan menemukannya kembali. Sebenarnya apa yang saya alami adalah hape saya tertinggal di mesin ATM di salah satu Gerai ATM di salah satu SPBU di Jl. Tun Abdurrazak Makassar. Jadi bukan jatuh, kecopetan, atau dirampas orang. Intinya adalah hape hilang karena kelalaian saya sendiri, lupa mengambilnya setelah transaksi di mesin ATM. 

Kisahnya berawal saat pagi dalam perjalanan ke kantor, saya singgah di SPBU untuk mengisi bahan bakar  mobil saya sekaligus singgah di gerai ATM untuk mentransfer uang arisan alumni S1-ku. Kami alumni salah satu Fakultas di Universitas Hasanuddin Makassar menjalin silaturrahim  dengan cara pertemuan dan arisan bulanan. Pagi itu saya rencana transfer uang arisan karena kebetulan berhalangan hadir saat pertemuan bulanan hari minggu sebelumnya. Singkatnya, setelah di SPBU dan selesai mengisi BBM untuk mobilku, saya pun ke gerai ATM untuk transfer uang dan membawa hape saya karena nomor rekening bendahara arisan ada di group chat WA (Whatsapp).

Di dalam gerai ATM, ada tiga mesin ATM dari BANK yang berbeda, dan hanya ada 2 orang yang sedang  transaksi termasuk saya. Sebelum saya transaksi, saya mau memastikan dulu, apakah ATM itu bisa mengeluarkan kertas bukti transfer atau tidak. Saya akan transfer kalau ada bukti transfer keluar yang akan kufoto dan kukirim ke group WA Alumni. Ternyata, tidak ada kertas bukti transfer keluar, jadi saya memutuskan tidak jadi transfer. Hape yang tadi kuletakkan diatas mesin ATM, tidak kuingat lagi, langsung keluar dari gerai ATM dan masuk mobil melanjutkan perjalanan ke kantor. Masih sempat kuperhatikan ada seorang laki laki berbaju seragam PNS seperti saya juga masuk ke ATM dan menggunakan mesin ATM yang tadi kugunakan. 

Setiba di kantor, setelah parkir mobil, saya baru tersadar kalau Hape saya tertinggal di mesin ATM di SPBU tadi. Kaget dan cemas dan berbagai macam perasaan berkecamuk dipikiran! Hapeku bukanlah hape mahal, hape Android merek Samsung Grand Prime. Yang pertama kupikirkan ada hasil foto hasil kerja saya selama Audit Kearsipan dari 8 daerah yang saya simpan di hape itu,  yang harus saya cantumkan di Laporan hasil Audit, itu yang terpenting. Kalau yang lain hanya foto foto yang tidak terlalu urgen untuk disimpan.  Saya juga tidak pernah menyimpan data penting, semacam Nomor Rekening, Alamat, Nomor KTP (Kartu Tanda Penduduk), nomor KK (Kartu Keluarga) karena khawatir akan terjadi kehilangan dan disalahgunakan informasi itu. Dan benar juga. Saya kehilangan Hape yang  tertinggal di mesin ATM.  

Dengan pikiran yang khawatir saya masih  menyempatkan diri untuk absensi Finger Print, sebelum kembali ke ATM tadi untuk mengecek keberadaan Hapeku. Tanpa memberitahukan apa yang terjadi kepada siapapun dikantor, saya minta izin pada satpam kantor untuk keluar sebentar. Dalam perjalanan saya berusaha menganalisa kira kira apa yang terjadi dengan hapeku yang tertinggal itu. Dari berbagai pengalaman orang orang yang tertinggal hapenya disuatu fasilitas umum misalnya di ATM, Toilet dan lain lain, hampir semua kembali ke pemiliknya. Berbeda nasib Hape yang memang karena dicopet atau dicuri dalam perjalanan misalnya, akan susah ditemukan kembali. Karena sudah pasti yang mencuri atau mencopet itu orang jahat yang butuh uang. Sementara orang yang menemukan Hape, besar kemungkinan adalah orang ‘baik’ yang sadar bagaimana pentingnya hape, yang mungkin juga tidak terlalu butuh hape, karena hape itu sendiri bukan lagi barang mewah diera digital sekarang ini. Saya masih berharap orang yang menemukan Hapeku adalah orang baik. Tiba tiba saya teringat dengan laki laki berseragam PNS yang menggunakan ATM setelah saya. Mungkinkah dia mengambilnya? Rasanya tidak mungkin! Atau apakah dia melihat Hapeku tergeletak diatas ATM itu? Saya juga berkesimpulan bahwa orang orang yang menggunakan ATM untuk bertransaksi pastilah orang yang punya rekening tabungan di Bank. Punya rekening bank kemungkinan besar berarti orang yang bahagia secara finansial, tidak mungkin mau mengambil barang yang bukan haknya.  Jadi sayapun menenangkan diri. 

Setibaku di SPBU di JalanTun Abdurrazak itu, sayapun segera menuju Gerai ATM namu Hape saya sudah lenyap. Saya segera keruangan kecil disamping ruangan barber shop, yang berfungsi sebagai kantor SPBU itu. Perempuan paruh baya yang duduk dimeja kecil, menerima saya dengan senyum. Seluruh rangkaian peristiwa kehilangan hape-pun saya ceritakan kepadanya. Saya masih berharap ada seseorang pengguna mesin ATM yang menemukan hapeku dan menitipkannya padanya. Tapi jawaban perempuan itu, “saya tadi membersihkan ruangan ATM dan tidak melihat adanya hape disitu!”. Saat kutanya bagaimana dengan CCTV yang kuliat ada diruangan, jawabannya adalah, “CCTV itu hanya bisa dibuka di Bank BRI, bukan disini,Pak!”. Perempuan itu kemudian meminta nomor hapeku yang bisa dia hubungi, siapa tahu sang penemu menjawab dan mau mengembalikannya. Peristiwa hape ketinggalan di ATM sudah sering terjadi dan semua kembali ke pemiliknya, katanya. Wah, saya jadi lega mendengarnya! Dia memperlihatkan kepada saya catatannya yang berisi nomor kontak hape yang pernah ketinggalan di ATM di SPBU itu. 

Dua kali nomorku dihubungi oleh perempuan itu dan katanya lagi, “hape bapak masih aktif, tapi sepertinya tidak diangkat. Saya kembali merasa cemas.  Mungkin saja si penemu dalam perjalan dan tak mendengar dering hapeku, harapku menghibur diri. Saya kemudian memutuskan pulang kerumah dulu. Rencanaku, melalui hape istriku saya akan menghubungi nomor hapeku sendiri dan berharap bisa bicara dengan orang yang menemukannya dan berharap dia mau mengembalikannya kepadaku. 

Sesampai dirumah, istriku menyambutku dengan pertanyaan, “kenapa cepat pulang, Pa?” Saya pun menceritakan ulang apa yang telah terjadi. Istriku kemudian masuk kamar dan kembali keruang tamu sambil menyodorkan hapeku. Saya agak bingung juga. Dalam pikiranku, bagaimana bisa hape yang tertinggal di mesin ATM sudah kembali kerumahku lagi dengan selamat? Ataukah saya hanya lupa bawa dari rumah? Tidak mungkin! Saya ingat betul, saya membawanya, di mobil saya sempat buka group WA-ku, dan juga ingat betul saya letakkan di atas mesin ATM sebelum bertransaksi di ATM. Jadi hanya sekitar 1,5 jam hapeku menghilang. Lalu bagaimana bisa hape itu sudah ada dirumah? Menurut istriku, kronologisnya begini. Sesaat setelah saya berangkat kekantor, istriku hendak menelpon, dicari cari hapenya tidak ketemu. Karena kebetulan adik  istriku ada dirumah, diapun meminjam hape adiknya untuk menghubungi nomorku, hanya untuk menanyakan ‘apakah saya melihat dimana hapenya atau tidak?’. Dan istriku kaget karena yang menjawab panggilannya bukan suara saya, tapi suara laki laki lain yang menjawab, “saya temukan hape ini diatas mesin ATM di SPBU Jalan Tun Abdurrazak”. Istriku tentu saja kaget, lalu kemudian bernegosiasi dengan laki laki itu untuk ketemu. Si penemu kemudian menentukan tempat bertemu di sekitar perumahan Citra Land Celebes yang tidak jauh dari gerai ATM tempat dia menemukan hapeku. Dengan mengendarai motor yamaha-nya, istriku menemui laki laki itu yang ternyata masih usia muda dan kelihatan seperti seorang karyawan, dan segera memberikan hapeku ke istriku. Selamatlah Hapeku. Ternyata keyakinanku bahwa orang yang menemukan hapeku adalah orang baik, adalah benar adanya. Ternyata pula si penemu, sempat memposting ke group WA alumni-ku tentang hapeku yang ditemukannya, dan ditanggapi bermacam macam oleh anggota groupku.

Kesimpulan dari peristiwa yang saya alami ini adalah bahwa, jika hape anda hilang karena tertinggal disuatu tempat, kemungkinan besar anda akan menemukannya kembali. Yakinlah bahwa jauh lebih banyak orang baik dari pada orang jahat didunia ini. Dan tentu saja, jangan terlalu stress dan tetap berdoa kepada sang maha Pengatur kehidupan.  
(Gambar hanya illustrasi, dari google)

 

Melepas Rindu di Villa "Rindu Alam"





Ketika usia kita semakin menua, berkumpul dengan sahabat sahabat masa remaja akan membawa kebahagian. Begitu banyak yang bisa diobrolkan dan didiskusikan tentang pengalaman saat masih sekolah dulu. Ada kisah sedih, lucu, heboh, mengharukan, menegangkan dan membanggakan. Semuanya membuat kita terkenang kenang. Dan  hal itu menggugah suatu kenangan yang pernah terjadi dimasa lalu. Berkumpul dengan sahabat lama yang puluhan tahun tidak bertemu, juga akan mempererat tali silaturrahim. Bagaikan merajut kembali benang benang yang telah putus puluhan tahun. 


Atas dasar itu, bebebrapa orang alumni SMA 1 Watampone 1986 menginisiasi suatu wadah silaturrahim dalam format “Temu Kangen”. Diawali dengan komunikasi secara intens dimedia sosial seperti group Whatsapp (WA) dan group Facebook akhirnya terbentuklah panitia kecil beranggotakan 20an orang. Jadi selama beberapa bulan sebelum acara, sudah ditawarkan kepada semua anggota alumni 86 pilihan tempat. Dari dua tempat pilihan, yaitu Pallette di Bone dan Malino di Gowa, akhirnya Malino yang mendapat voting terbanyak. 


Dengan penuh semangat, kelompok kecil panitia kemudian melakukan hunting tempat Temu Kangen di Malino, karena memang banyak pilihan tempat disana. Selain hawa yang sejuk pegunungan, juga Malino adalah kota kecil yang indah dengan banyak pohoh pinus dan tanaman bunganya. Pada awalnya, ditentukan adalah tempat yang namanya MASAGENA. Tapi kemudian setelah mempertimbangkan banyak hal akhirnya terpilih Villa Rindu Alam. 


Setelah persiapan Temu Kangen mantap, termasuk kontribusi dari peserta, baju kaos seragam, peralatan, transportasi, konsumsi, akomodasi  dan lain lain, tibalah hari pelaksanaan Temu Kangen. Tanggal 8 – 9 September 2018, hari Sabtu dan Minggu sengaja dipilih agar tidak mengganggu hari kerja para peserta. Sabtu pagi pagi sekitar jam 7.30 dengan menggunakan jasa transportasi online, saya menuju Jalan Bau Mangga, di Asrama Sidrap tempat kami berkumpul bagi yang mau naik bus ke Malino. Sementara teman alumni yang bermukim di kota Watampone dan sekitarnya, juga berangkat ke Malino lewat Sinjai dengan menggunakan beberapa mobil pribadi. 


Sekitar pukul 11 pagi, kami tiba di lokasi, yaitu Villa Rindu Alam. Villa ini terdiri dari dua gedung, satu gedung berlanta 2 dan satu lagi berlantai satu. Ada lagi satu gedung yang masih satu pagar dengan villa Rindu Alam, namun berbeda kepemilikan. Karena banyaknya peserta Temu Kangen, pihak panitia menyewa ketiga gedung. Gedung yang dekat dengan jalan masuk, dikhususkan bagi peserta laki-laki. Dua gedung villa Rindu Alam ‘dikuasai’ oleh peserta perempuan. Gedung yang ditengah yang berlantai satu ditempati oleh Panitia perempuan. Sementara panitia laki laki berbaur dengan peserta lainnya di gedung sebelah kanan dekat jalan masuk. Sebagian panitia telah menginap satu malam sebelum hari ‘H’ untuk mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan selama acara Temu Kangen. Penitia yang menginap telah menyiapkan peralatan elekton untuk acara hiburan, tempat tempat tidur peserta, hiasan lampion dan berbagai menu makanan untuk para peserta. 

Peserta yang dari dari Makassar yang terdiri dari satu Bis dan beberapa mobil pribadi tiba terlebih dulu di villa Rindu Alam. Kami yang dari Makassar disambut oleh panitia, dan juga hidangan makan siang sudah siap terhidang. Menu masakannya sungguh lezat. Ada sate ayam, ikan bakar dan lain lain. Meski siang siang bolong, namun angin tetap bertiup kencang dan cuaca dingin tetap terasa. Bahkan kami yang tidak kebagian kursi saat makan siang, duduk di ruang terbuka dibawa dibawa sinar matahari langsung, namun terik matahari tetap tidak terasa panasnya. 

Acara siang itu sebagian teman langsung berfoto foto dengan latar belakang villa Rindu Alam yang didesain dengan indah, juga didepan villa ada hiasan lampion warna warni dengan berbagai ukuran dan bentuk. Didepan villa juga ada gazebo dan rumah pohon yang juga menjadi latar belakang foto foto selfi peserta Temu Kangen.  Didepan gedung tengah yang memiliki teras kecil, adalah panggung tempat elekton dan spanduk acara Temu Kangen terpasang. Spanduk lainnya juga terpasang di pintu masuk Villa. Dipanggung kecil inilah teman teman peserta yang suka menyanyi, menyalurkan bakat bakatnya sambil menghibur peserta Temu Kangen yang sedang menikmati hidangan makan siang. 



Suasana saat pertama kali bertemu dengan teman teman SMA lainnya yang sejak tamat SMA tahun 1986, 32 tahun lalu, ada rasa bahagia, gembira, senang dan terharu. Tak sekedar jabat tangan diantara para peserta, tetapi juga pelukan hangat dan cium pipi kiri dan kanan. Peserta perempuan banyak nampak histeris, berpelukan sambil lompat lompat, dan terkadang, pelukan belum terlepas, sudah ditarik lagi ke pelukan sahabat perempuan lainnya. Tentu saja kami maklum. Sahabat yang dulu selama 3 tahun sama sama di sekolah, lalu terpisah 32 tahun dan baru bertemu… sesuatu yang luarbiasa yang sulit diungkap dengan kata kata. Bahkan ada beberapa teman SMA yang dulunya kami tidak akrab, atau bahkan tidak saling kenal namun beberapa tahun tahun terakhir kami saling akrab lewat media sosial Facebook dan Whatsapp (WA). Apalagi kami cukup sering bertemu dibeberapa tempat sebelum acara Temu Kangen dilaksanakan. 


Panitia sudah menyiapkan acara secara lengkap, mulai dari pemberangkatan sampai kembali lagi ke Makassar dan Bone. Siang itu setibanya di lokasi kami makan siang, dihibur oleh teman teman yang suka menyanyi dan lomba bakiak. Disini kelucuan lomba membuat kami bisa menikmati, baik peserta lomba maupun yang hanya menonton saja. Awal awal lomba semua nampak baik baik saja dan lancar, namun setelah beberapa langkah, mulai tidak harmonis. Akhirnya peserta terjatuh. Bahkan sampai ada yang patah bakiak-nya.

Sore menjelang, ketika udara mulai terasa semakin dingin menusuk sampai ketulang, lampion warna warni mulai dinyalakan, menambah semarak dan meriahnya acara Temu Kangen. Peserta Temu Kangen mandi dan kemudian shalat magrib berjamaah. Kami shalat berjamaah di gedung tempat peserta laki laki karena cukup luas. Sebenarnya ada Musallah kecil berdinding kaca didepan Villa utama, namun kami berjamaah di dalam gedung villa karena banyaknya jamaah. Selesai shalat, kami makan malam bersama, lalu dilanjutkan dengan acara acara Temu Kangen yang telah disusun sebelumnya oleh Panitia. Diawali dengan laporan ketua panitia DR. Abdul Masyar, pembacaan doa untuk teman alumni yang telah menghadap sang  Ilahi rabbi, pemutaran video foto foto lama kami saat masih di SMA dan foto setelah kami saling berinteraksi di media sosial. Selanjutnya adalah hiburan hiburan malam. Ada lomba nyanyi antar kelas. Sebagian teman bernyanyi, sebagian lagi berjoget dan sebagian  juga hanya menonton sambil ngobrol dan saling tukar informasi dan pengalaman selama 32 tahun tidak bertemu. Ternyata banyak kisah kisah dari pengalaman teman teman yang baru terungkap di acara Temu Kangen ini. 



Menjelang tengah malam,ketika angin semakin terasa kencang dan suhu udara semakin dingin, api unggun kemudian dinyalakan, sambil menikmati hidangan minuman Sarabba untuk menghangatkan badan. Juga panitia menyiapkan cemilah “jasuke” yang terdiri dari jagung susu dan keju. Kalau soal makanan, cukup banyak tersedia selama acara berlangsung. Kapanpun kalau kita ingin makan sesuatu selalu tersedia. Dilingkaran api unggun pun, tersedia lagu makanan songkolo dan berbagai lauknya. Api unggun masih berkobar saat saya dan beberapa teman sudah mulai mengantuk dan masuk untuk tidur. Namun didalam villa-pun ternyata obrolan berlanjut lagi. Bahkan ada yang ngobrol sampai pukul 3 dinihari. Tidur di Villa cukup hangat karena semua tempat tidur dan kasur kasur yang di lantai disiapkan masing masing satu selimut. Subuh menjelang, kami kemudian shalat berjamaah subuh. 

Acara pagi tanggal 9 September 2018, pagi pagi setelah shalat subuh, sudah tersedia minuman teh  dan kopi serta makanan ringan lainnya. Dilanjutkan dengan senam pagi, senam Maumere, sambil sarapan pagi. Lalu para peserta dengan kaos seragam yang telah dikenakan kembali ikut lomba lomba. Ada lomba lari kelereng, lomba sepakbola dengan mengenakan daster yang menimbulkan keriuhan gelak tawa para penonton. Juga masih ada yang menyanyi dan joget bersama, dilanjutkan dengan pemberian hadiah bagi para pemenang lomba. Sebelum pulang, para peserta berdiskusi untuk membicarakan agenda agenda pertemuan selanjutnya. Dalam diskusi, ada perdebatan antara para peserta namun, tetap berakhir damai dan penuh keakraban. 

Acara makan siang bersama sebelum pulang adalah acara terakhir kami. Bahkan sebelumnya sudah ada peserta yang pulang lebih dulu karena adanya kegiatan yang penting. Dalam perjalanan pulang kami singgah di pasar tradisional Malino, untuk membeli oleh oleh untuk keluarga. Di pasar Malino, cukup banyak dijual sayur sayur dan buah segar. Malino adalah pemasok utama sayur dan buah buahan tertentu di Sulawesi Selatan. Makanan kecil (cemilan) juga cukup banyak dijual dipasar ini, diantaranya kue tenteng kacang, tenteng wijen, baje dan kue khas lainnya. 


Perjalanan pulang ke Makassar kami lalui dengan kesan yang mendalam akan pertemuan kami selama dua hari satu malam di Villa Rindu Alam. Kesan yang begitu dalam, sampai beberapa hari lamanya setelah berpisah, pikiran masih saja dia di Villa Ridu Alam bersama sahabat sahabat terkasih. Villa Rindu Alam adalah tempat kami melepas RINDU para  alumni SMA 1 Watampone 1986. Acara Temu Kangen berlangsung sukses, lancar dan berkesan Alhamdulillah. Salut pada kerja keras panitia Temu Kangen sehingga acaranya berlangsung meriah dan sukses. Kepada teman teman Alumni SMA 1 Watampone 1986, sampai jumpa di acara Temu Kangen selanjutnya.  Semoga Allah SWT sang pemilik waktu memberikan kesempatan kepada kita semua untuk bertemu lagi dilain waktu. Amin. 


A good friend is like star. You can not always see it, but you realize it will always be there – Teman itu layaknya bintang, kamu memang tidak selalu bisa melihatnya tapi percayalah mereka selalu ada.

(Foto koleksi dari group WA dan Facebook Alumni SMA 1 Watampone)