Tuesday, December 5, 2017

Perlindungan Hewan di Negara Maju.....




Kehidupan hewan di negara maju begitu dihargai. Hewan yang dipelihara maupun yang liar, selalu dipantau oleh pemerintah setempat. Kesehatannya diperiksa, penyakitnya diobati, dan kalau ada orang yang diketahui menyiksa hewan, akan dihukum. Begitupula dengan orang yang tidak memperhatikan hewan peliharaannya maka juga akan dikenai sanksi oleh pemerintah. Di negara maju, seperti Australia misalnya, disetiap kota, ada shelter yaitu tempat penampungan hewan atau binatang yang tidak ada pemiliknya, misalnya anjing, kucing, kelinci dll. Jika ditemukan ada anjing atau kucing yang tak bertuan, maka segera ditangkap dan dibawa ke shelter ini dipelihara sampai ada yang mau mengadopsinya.


Baru baru ini, dimedia sosial Youtube, ada video diunggah oleh seorang warga Manchester Inggris dimana seekor Angsa berjalan dengan santai dijalan raya yang menyebabkan lalulintas macet selama beberapa saat. Selama si Angsa putih berjalan (yang tentu saja lambat), mobil truk yang ada dibelakangnya tetap sabar mengikuti dan sopirnya tidak berteriak-teriak, dan bahkan tidak membunyikan klakson. Begitu pula mobil mobil yang ada dibelakangnya. Begitu besar penghargaan warga kota tersebut terhadap kehidupan, bahkan kepada kehidupan hewan sekalipun. Di negeri Belanda, pada sebuah cagar alam yang ditengahnya melintas jalan raya, telah dibuatkan jembatan khusus hewan yang akan menyeberang jalan raya tersebut.


Warga yang memiliki hewan peliharaan (pet) selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi peliharaannya tersebut. Ada jadwal untuk mandi, ada jadwal pemberian makan dan ada jadwal membawa hewan peliharaan jalan jalan ketaman kota (terutama untuk anjing). Ketika memandikan anjing atau kucing misalnya, ada sabun dan shampo khusus dan bahkan ada sikat gigi khusus untuk binatang peliharaan tersebut. Warga juga tidak membiarkan hewan peliharaannya tidur diluar rumah, dan dibiarkan saja berkeliaraan dan tidur dalam rumah. Kadang disofa, dilantai bahkan ditempat tidur tuannya.



Jika saya bandingkan dengan kehidupan anjing dan kucing di Indonesia, kehidupannya jauh ketinggalan dan mungkin ‘menderita’. Jarang ada warga yang dengan tulus ikhlas memelihara binatang. Di negeri ini begitu banyak hewan liar berkeliaran dimana mana, dipasar, dipemukiman, dekat rumah makan, dan dimana saja mereka bisa mendapatkan makanan. Ketika ada seekor kucing yang melahirkan anak dan ada dekat rumah, maka si tuan rumah biasanya akan membuang anak anak kucing tersebut. Bermacam macam alasan, kotorannya, ributnya, susah mengurusnya, dll. Anjing liar banyak yang akhirnya mati kelaparan, sakit dan tak ada yang berusaha mengambilnya atau sekedar membawanya ke dokter hewan. Rumah sakit hewan juga jarang dijumpai di Indonesia. Dokter hewan masih kurang. Di Queensland, Australia bahkan ada klinik (Rumahsakit) khusus untuk kelelawar. Anak kelelawar yang kehilangan induknya, kelelawar yang sakit, kelelawar yang terdampak kebakaran hutan semua dirawat di klinik ini.


Disini, di Makassar dan Gowa, di Indonesia setiap hari ketika saya pergi dan pulang dari kantor, selalu saja banyak hewan yang terlindas kendaraan dijalan raya, terutama kucing. Tak ada warga yang peduli, bahkan yang didepan rumahnya ada bangkai binatangpun cuek saja dan membiarkan saja bangkai binatang itu terlindas terus sampai hancur dan lenyap. Bermacam macam binatang yang saya pernah lihat terlindas kendaraan, ada anjing, kucing, ular, tikus got, biawak, dan ayam. Di Australia, ada lembaga khusus yang mengambil/menyingkirkan semua bangkai binatang di jalan raya yang terlindas atau tertabrak kendaraan. Jika masih hidup, maka lembaga tersebut akan membawanya ke rumahsakit hewan. Jika sudah mati, maka tugas lembaga itu menguburkannya. Mungkin kita di Indonesia perlu sedikit berempati atas kehidupan binatang sebagai sesama mahluk Allah.

Sumber gambar: Google.



Saturday, December 2, 2017

Menghalau Galau di Pulau Larea-Rea


Pulau Larea-rea adalah salah satu pulau dari 9 pulau yang ada di wilayah administrasi kecamatan Pulau Sembilan, kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan. Sembilan pulau yang ada dan saling berdekatan adalah Pulau BurungLoE, yang terbesar dan tertinggi karena nampak jelas meskipun kita berada di ibukota kabupaten Sinjai, Pulau Kambuno, Pulau Liang Liang, Pulau Kodingere, Pulau Batanglampe, Pulau Katindoang, Pulau Kanalo I dan Pulau Kanalo II. Pulau Larea-rea adalah satu satunya yang tak berpenghuni, mungkin karena ukurannya yang kecil, hanya sekitar 10-15 meter panjangnya. Ke-9 pulau ini bisa dikunjungi dalam satu hari karena jaraknya saling berdekatan.


Nama pulau Larea-rea sendiri baru saya ketahui akhir akhir ini sebagai nama pulau, karena selama ini yang dikenal, Larea-rea adalan nama pelabuhan kecil ditimur kota Sinjai tempat berlabuh perahu perahu kapal pengangkut bahan pangan dan bahan bangunan dari berbagai pulau di Indonesia. Selain tujuan pulau Sembilan, juga sampai pulau Selayar, Kalimantan dan pulau pulau kecil di laut Flores.


Beberapa bulan lalu, tepatnya 27 Juni 2017 lalu, sehabis lebaran saya bersama anak anak dan keponakan berkunjung kepulau indah ini. Akses menuju kepulau ini dan pulau pulau lain disekitarnya cukup mudah. Kita bisa menyewa perahu kayu bermesin yang bisa memuat sampai 20 atau 30 orang, atau bisa juga menyewa speed boat kecil yang bisa memuat sekitar 10 orang. Dipelabuhan Lappa yang berlokasi di muara sungai Tangka, tersedia banyak jenis perahu perahu yang bisa disewa. Biayanya bervariasi antara 200 – 400 ribu rupiah. Jarak tempuhnya kalau menggunakan perahu kayu sekitar 1 jam, sementara kalau dengan speed boat hanya 20 – 30 menit saja.


Perjalanan naik perahu kayu kepulau Larea-rea di Pelabuhan Lappa, kemudian perahu akan keluar dari muara sungai Tangka menuju laut lepas menuju pulau. Sepanjang tepian sungai bisa disaksikan kegiatan para nelayan, dan rumah rumah penduduk ditengah tengah rimbunan hutan bakau. Sayang sekali karena suara mesin perahu yang sangat besar agak mengganggu komunikasi kita para penumpang sepanjang perjalanan. Mesti berteriak teriak kalau mau berbicara satu dengan yang lain.


Dari jauh pulau Larea-rea sudah kelihatan, dengan rimbunan pohonnya dan perahu perahu yang sudah bersandar sebelumnya. Meskipun dipulau Larea-rea ada dermaga kayu yang dibangun pemerintah, namun perahu perahu penumpang lebih memilih berlabuh disamping di sebelah utara pulau yang dangkal dengan pasir putihnya yang indah. Disebelah utara pulau ini ada hamparan pasir putih yang akan nampak memanjang jika air laut surut. Anak anak juga cukup aman berenang atau berendam dibagian ini karena airnya dangkal dan nyaris tidak ada ombak. Disebelah baratnya berupa bebatuan yang cukup datar sementara diselatan juga bebatuan tapi lebih banyak tertutupi air laut dan agak tajam. Mesti hati hati saat berjalan disebelah selatan ini.


Apa saja kegiatan yang dapat dilakukan dipulau Larea-rea ini? Kita bisa berenang, berendam, berjemur, main main pasir, cari kerang, memancing ikan, snorkeling, diving ataupun santai santai saja memandang pulau pulau lain disekitarnya. Karena pulau ini tidak berpenghuni, maka pengunjung mesti membawa sendiri makanan dan minuman. Kami waktu itu membawa ikan segar untuk dipanggang (bakar), nasi, air mineral gelas, minuman ringan, snack dan kue kue. Perlu juga dibawa adalah: tikar plastic kalau anda berombongan, pakaian ganti, dan juga tabir surya (sunblock) supaya kulit tidak terbakar.


Pulau ini cukup ramai pengunjung, bahkan ada dari kabupaten lain dan dari Makassar. Sayang sekali karena masih sangat minim fasilitas. Tidak ada toilet, tidak ada sumber air bersih untuk membilas badan setelah berenang. Kami waktu itu membawa satu gallon air bersih untuk bilas badan dan berwudhu. Satu orang cukup mandi satu gayung air bersih. Dipulau ini juga tidak tersedia tempat untuk ganti pakaian. Kalau mau shalat, ada balai balai kayu atau bambu yang bisa dijadikan tempat shalat.



Saya berharap pemerintah Kabupaten Sinjai segera membangun fasilitas umum dipulau ini, agar kedepannya, semakin banyak wisatawan yang berkunjung dan berwisata ke pulau Larea-rea. Bagi anda yang suka air, maka pulau Larea-rea ini adalah pilihan yang tepat.
Sumber Gambar: Koleksi pribadi dan halamanindonesia.com




Saturday, December 3, 2016

Merajut Kenangan di Acara Reuni SASTRA 86

Reuni dengan teman lama selalu menyenangkan dan membahagiakan. Bertemu dengan teman, sahabat lama saat masih kuliah, atau masih sekolah, sambil bercanda tentang hal hal konyol dan menggelikan yang terjadi dimasa lalu akan membuat kita bahagia. Bahkan Richard Paul Evans dalam bukunya “Lost December” menulis bahwa “…the sweetness of reunion is the joy of heaven…”. (indahnya pertemuan saat reuni bagaikan kenikmatan surgawi).


Berawal dari saling kontak antar taman teman kampus dulu di Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Budaya atau FIB) Angkatan 86, Universitas Hasanuddin Makassar. Kami saling kontak awalnya lewat media sosial Facebook. Ada juga media sosial lain misanya BBM (Blackberry Messenger), WA (Whatsap), LINE. Ketika ada teman lain yang baru ‘ditemukan’ maka segera dimasukkan dalam group kami, sehingga semakin lama semakin banyak teman angkatan yang turut berpartisipasi dalam obrolan di media sosial.


Tidak semua hal yang diobrolkan dimedia sosial menggembirakan. Kenyataan bahwa beberapa orang teman seangkatan kami di Fakultas, sudah terlebih dulu menghadap sang Khalik, adalah hal yang menyedihkan. Atau berita tentang status pernikahan teman teman yang tidak langgeng dan berita lainnya. Namun hal itu tidak mengurangi semangat kami untuk turut serta dalam pertemuan (Reuni) akbar angkatan kami Sastra 86.


Diawali dengan pertemuan kecil beberapa teman dan membentuk arisan Sastra 86, lalu berkembang dan membentuk panitia Reuni Sastra 86, akhirnya kami pun sepakat untuk melaksanakan acara Reuni Akbar Sastra 86 Universitas Hasanuddin. Spanduk bertuliskan “Ramah Tamah dan Napak Tilas, Kenangan 30 Thn lalu”. Angkatan kami terdiri dari berbagai jurusan, yaitu Linguistik, Sastra Indonesia, Sastra Asia Barat, Sastra Daerah, Sejarah dan Arkeologi, Sastra Inggris, dan Sastra Prancis. Setiap jurusan dikordinir oleh seorang kordinator jurusan. Kesepakatan acara Reuni dilaksanakan pada hari Sabtu – Minggu 14-15 Mei 2016 di Pantai Wisata Galesong Utara di kabupaten Takalar.


Pada hari Reuni tiba, kami pun berkumpul di kampus Universitas Hasanuddin tepatnya di Fakultas Sastra. Panggung dibelakang Aula Mattulada dibagian FIS (Fakultas Ilmu Sosial) telah disiapkan. Acara pagi itu dikampus diisi dengan kata sambutan Panitia, para dosen, dan beberapa alumni. Juga ada pemberian souvenir kenangan dari Alumni kepada para Dosen. Sebelum berangkat ke Pantai Wisata Galesong Utara, para peserta makan siang yang telah disiapkan oleh Panitia.


Selanjutnya peserta Reuni berangkat ke Galesong Utara, dengan menggunakan 2 bus yang disiapkan panitia. Sebagian besar peserta menggunakan kendaraan pribadi masing masing. Sehingga bus yang disiapkan tidak terisi penuh. Hanya peserta yang dari luar daerah yang naik bus, termasuk saya. Perbincangan kami tidak pernah terhenti selama dalam perjalanan. Berbagai kisah nostalgia selama kuliah di Sastra Unhas muncul dalam perbincangan sampai kami tiba di Pantai Wisata Galesong Utara.


Suasana tempat reuni di Pantai Wisata sangat ramai saat kami tiba. Sopir bus kami susah cukup lama menunggu sampai mendapatkan tempat parkir. Panitia reuni sudah tiba sebelum kami, jadi mereka telah mengatur kamar kamar yang akan kami tempati. Saya sebenarnya tidak punya nama dipintu kamar, namun karena beberapa peserta yang tidak datang yang bisa saya gantikan tempatnya.


Malam hari, kami berkumpul di Aula utama ditepian pantai. Malam ramah tamah yang juga dihadiri oleh Dekan Fakultas llmu Budaya (FIB) Universitas Hasanuddin, Prof. Burhanuddin Arafah. Acara ramah taman, diisi dengan makan malam bersama, ramah tamah, sambutan dari Dekan FIB, ketua panitia, dan alumni. Sebagian teman juga bernyanyi bersama, serta panayangan foto foto jadul saat masih aktif kuliah. Sepanjang malam berlalu dalam keriangan dan kebahagiaan para peserta yang puluhan tahun tidak saling bertemu dan berkomunikasi. Banyak kisah kisah muncul, baik kisah percintaan, kisah lucu dengan dosen dan lain lain. Bahkan ketika kami sudah dikamar pun kisah kisah itu masih terus berlanjut sampai dini hari.


Pagi hari, para anggota SASTRA 86 senam pagi ditepi kola renang dan kemudian sarapan. Sebelum kembali ke Makassar, masih ada acara games, yang mempererat tali silaturrahim. Banyak hal hal lucu yang terjadi saat permainan game, dan meskipun usia kami semua sudah Jelita (jelang limapuluh tahun) namun ternyata masih cukup gesit semua saat game. Sayang sekali karena acara reuni hanya dua hari satu malam. Serasa masih banyak yang ingin diperbincankan dengan teman teman seangkatan. Masih banyak hal yang belum terungkap. Namun banyak tugas menanti sehingga acara reuni hanya bisa dilaksanakan diakhir pekan.


Semua nampak bahagia. Ya….seperti yang disebutkan oleh kata Dr Priguna Sidharta "Reuni", "selain untuk memutar longterm memory di hipocampus, juga untuk memperbaiki fungsi nucleus accumbens, bagian otak yg mengurus kesenangan".

(Sumber Gambar: dari group WA Sastra 86)


Friday, November 25, 2016

The Old Manuscript of Bugis and Makassar


The Bugis and Makassar ethnic groups in South Sulawesi are including two of the few ethnics in Indonesia who has a tradition of writing. Letters or script used by the Bugis people since hundreds of years ago is the Lontara script. The Lontara is derived from “lontar” or palm (leaves) where the original scripts were written on. Lontara itself is named "uki Ugi'sulapa eppa'" (Dr. Mukhlis Paeni in Nusantara Manuscript Catalogue). Makassar ethnic group is also has its own letter, called script 'jangang jangang' which resemble the original form or shape of the bird, so-called 'jangang jangang'. In further developments jangang-jangang script is rarely used and the Uki Sulapa Eppa is more frequently used for both Bugis and Makassar writing system. According to historians, the script lontara 'Uki sulapa eppa' and 'jangan jangan' script are both derived characters from the Indian's Sanskrit.

A lot of Bugis ancient manuscripts stored in the Library and Archives of South Sulawesi, consisting of a variety of characters, namely lontara Bugis, lontara jangang-jangang script, 'serang' script (written of Bugis or Makassar using the Arabic script), and the manuscripts writteh in Arabic scripts especially for religious purposes. Some of those manuscripts are already difficult to read, both the original manuscript and its microfilm. This is because the manuscripts are already too old and very fragile manuscript, the ink used has also been seep into the paper, there are also a lot pages missing or torn.


In the Regional Library and Archive of South Sulawesi it is also well preserved the ancient Bugis manuscripts written on palm leaves. The manuscript is in the form of palm leaf roll. According to the experts this manuscript was written by using a kind of nail to scratch the letter on the palm leaves carefully due to the nature of palm leaves which are easily torn. After one piece of writing, the scripts then dusted with black powder so that the writing visible and clearly legible. When a strand was finished then connected with the previous piece by stitching using a needle and thread. When a manuscript is considered finished then pieces of palm leaves are rolled up and made the rolls for easy reading. How to read the manuscript? In a position sitting cross-legged with hands palm leaf rollers rotating rolls. The reading usually accompanied by a ritual. Family-tree manuscripts usually read in the evening before the wedding ceremony. The purposes are to make sure that the bride-to-be or groom-to-be are both from the noble blood.


The number of manuscripts lontara of Bugis, Makassar and Mandar stored preserved in the Regional Library and Archive of South Sulawesi is 4049 manuscripts. Those manuscripts all have been microfilmed. Researchers or students who need the manuscripts will only access the microfilmed manuscripts. The original manuscripts are already inaccessible, due to the nature of the paper which is already very fragile. The original manuscripts are usually only for display at an exhibition. The microfilmed lontara manuscripts are now accessible by using the Microfilm reader. Various topics written on Bugis manuscripts such as astrological 'kutika' which described about the good days and bad days to perform wedding ceremony, build and erect new houses (the house building of the Bugis and Makassar people are houses on stilts), beginning the day working the fields, and other forecasts. The using of herbal is written in the manuscript lontara pabbura'. Various types of mixed and herbaceous plants used to treat certain diseases. There's also called lontara Baddili 'Lompoa that is lontara manuscript that discusses the strategies of war and weapons. Another manuscript, talks about different ways of farming called lontara 'Paggalung, tasauf tale story, Syech Yusuf's teachings, religious manuscripts, sex education (lontara akkalaibinengeng), disposition of animals, genealogy (Lontara Pangoriseng), Lontara' alloping- loping which is lontara who investigated the procedures for sailing and fishing. There is also lontara 'pattaungeng which is a diary or chronicles of the ancient Bugis Kingdom and others (Rumpakna Bone, translation by Drs. Muhammad Salim 1991).


Literary works of Bugis usually consists of poetic literature such as the epic I La Galigo, Tolo ', Meongpalo, Sure' Selleyang, Ugi Elong. While lontara 'which consists of example sentences concatenated lontara saga, story, tasauf, and other religious lontara. The number of letters from the lontara type array is different. Elong Ugi usually consists of three lines each number of letters (lontara ') his or syllables in the Latin alphabet 8', 7 and 6. Sometimes it consist of only two rows but the number of syllables will always be 21. The Tolo ', Menrurana, and Meongpalo is composed of lines that connect array consisting of eight syllables or 8 letters of Bugis. I La Galigo and Sure 'Selleyang have amount of lines of 5, 5, 5 or 10, 10, 10.


It is unfortunate that the younger generation seems uninterested in examining the manuscript or lontara Bugis and Makassar. In fact, lontara 'Bugis and Makassar is one aspect of local culture containing noble cultural values of the nation. Without attempts to preserve the manuscript lontara Bugis and Makassar it is feared that the Bugis and Makassar younger generation will lose their identity and works of literature will be extinct.




Monumen Cinta Raffless di Kebun Raya Bogor


Setiap kali kita berkunjung ke Kebun Raya Bogor (KRB), jika melalui pintu utama, maka sebuah bangunan bercat putih bergaya Byzantine berbentuk melingkar dengan sejumlah pilar, akan menyambut kedatangan kita ke KRB. Bangunan putih adalah sebuah Monumen kenangan dari Sir Thomas Stanford Raffles untuk mengenang istrinya tercinta. Sebuah monumen yang dibangun sebagai bukti cintanya yang besar kepada istrinya yang wafat di Buitenzorg (nama kota Bogor dulu diera kolonial). Bangunan itu hanya monumen, dan bukan kuburan, karena kuburan istri Raffless ada di Pekuburan Tanah Abang di Batavia (nama Jakarta waktu itu).


Sir Stanford Raffles adalah Letnan Gubernur Inggris yang bertugas di Pulau Jawa pada awal abad ke 19 yaitu dari tahun 1805 - 1816. Selama bertugas di Jawa, Raffles didampingi oleh istrinya yang bernama Olivia Mariamne Raffless. Olivia dikenal sebagai istri yang sangat membantu karir suaminya. Perannya bukan sekedar istri seorang Letnan Gubernur Inggris, tetapi juga aktif membuat perubahan sosial di pulau Jawa. Olivia selalu mendampingi suaminya setiap kali sang suami berkunjung ke raja raja penguasa lokal di Jawa. Sebelum Olivia, belum pernah ada wanita Inggris maupun Belanda yang ikut bergabung dengan para penduduk lokal setiap kunjungan. Bahkan Olivia sering mengadakan perjamuan makan yang terbuka untuk umum, baik laki-laki maupun perempuan, hal yang sebelumnya dianggap tabu makan bersama antara laki-laki dengan perempuan. Dia juga menganjurkan wanita Eropa untuk menggunakan sarung sebagaimana wanita lokal.


Olivia Mariamne Devenis lahir di India pada 17 Februari 1771, dan wafat di Bogor pada 26 November 1814. Raffles pertama kali bertemu dengan Olivia di London, Inggris saat Olivia mengambil uang tunjangan pensiunan janda. Olivia memang berstatus janda ketika pertama bertemu dengan Raffles. Suami pertamanya adalah Jacob Cassivelaun Fancourt seorang asisten bedah pada perusahaan East India Company di India. Perkawinan pertamanya dengan Fancourt hanya berlangsung selama 7 tahun dan Fancourt wafat pada tahun 1800. Olivia kemudian kembali ke Inggris dan disanalah bertemu dengan Raffles, yang meskipun Olivia lebih tua hampir 10 tahun dari Raffles tapi keduanya mengikat tali pernikahan pada 18 Maret 1805 di Gereja St. George, Bloomsbury.



Kedua pengantin baru ini kemudian berlayar dengan Kapal Ganges menuju Penang (Malaysia waktu itu) , karena Raffles yang mendapat jabatan/posisi tinggi pada East India Company. Selama di Penang, Olivia cukup dikenal dan bersahabat dengan beberapa pejabat dan pujangga pada masa itu, seperti Lord Minto, sastrawan John Caspar Leyden yang sering bertukar puisi dengan Olivia, dan juga berteman dengan satrawan dan sejarahwan lokal Munshi Abdullah. Bahkan Abdullah Munshi memujinya sebagai, “istri yang berbakti kepada suami, dan bahkan dialah yang banyak mengajari suaminya, keduanya adalah pasangan yang sangat serasi bagaikan Raja dan penasehatnya”. Di Penang ada satu bukit kecil yang dinamai “Mount Olivia” untuk mengabadikan namanya. Raffles mendirikan sebuah bungalow tempat tinggal disini dekat dengan bukit “Mount St. Mary” yang mengambil nama saudara perempuan Raffles bernama Mary Anne, yang bersama suaminya Quintin Dick Thompson tinggal. Setelah Raffles diangkat sebagai Letnan Gubernur di Jawa, keduanya kemudian pindah ke Buitenzorg (Bogor) dan menetap disana di Istana Bogor sampai akhir hayatnya. Selama mendampingi suaminya, dia sangat dikenal oleh para bangsawan dan raja raja di Jawa, karena dia selalu mendampingi suaminya jika berkunjung ke kerajaan kerajaan lokal. Karena penyakit malaria yang dideritanya, akhirnya Olivia wafat di Bogor dan kemudian dikuburkan di pekuburan Tanah Abang.



Tidak banyak informasi yang ditinggalkan oleh Olivia. Ada yang mengatakan bahwa, istri kedua Raffles yang bernama Sophia Hull yang mungkin telah menghancurkan benda benda kenangan dari Olivia. Juga tidak diketahui apakah dia punya anak dari Raffles atau tidak, tetapi kalau ada, diperkirakan meninggal saat masih bayi. Kematian Olivia begitu menyedihkan bagi Raffles, karena berturut turut wafat pula sahabat dekatnya sekaligus mentornya Leyden dan Lord Minto.

Monumen cinta Sir Thomas Stanford Raffles kepada istrinya Olivia Mariamne Raffles tetap abadi di Kebun Raya Bogor, dan sampai sekarang meskipun sudah ratusan tahun. Sebait puisi yang ditulis oleh Olivia terukir pada monumen itu Oh thou whom neer my constant heart One moment hath forgot Tho fate severe hath bid us part Yet still – forget me not Terjemahan bebasnya kirakira begini: “Oh kekasih yang selalu dihatiku, yang tak sedetik kulupakan, meskipun takdir yang kejam memisahkan kita, namun jangan pernah lupakan daku” (Bahan dari Wikipedia Indonesia dan artikel berbahasa Inggris tulisan dari Bonny Tan) Gambar: Koleksi Pribadi dan Wikipedia.org



Thursday, November 24, 2016

Danau Mawang yang Indah namun Terabaikan


Danau Mawang adalah sebuah danau kecil yang terletak di kelurahan Romang Lompoa, kecamatan Bontomarannu, Gowa. Jarak dari rumah tempat tinggal kami hanya sekitar tiga kilometer saja. Karena jaraknya yang dekat itu, maka tempat ini seringkali menjadi tempat alternatif bagi saya sekeluarga untuk dikujungi diakhir pekan. Sebenarnya danau ini tidaklah menarik, karena tidak ada tempat duduk duduk bagi pengunjung misalnya, tidak ada tempat yang cukup lapang dan luas untuk menggelar tikar, tidak ada balai balai yang bisa dijadikan tempat berteduh dan memandang kearah danau. Hal yang paling tepat dilakukan disekitar danau kecil ini hanyalah memancing, olahraga lari atau jogging atau bersepeda.


Saya biasanya datang ke danau ini saat sore hari dihari sabtu atau minggu bersama anak anak. Kadang kadang juga bersama istri kalau dia lagi tidak sibuk dirumah. Kami biasanya hanya datang ke tempat yang indah ini hanya untuk memotret, melihat lihat orang memancing ikan, memandangi bunga bunga teratai putih dan pink. Bunga bunga teratai yang tumbuh didanau Mawang ini sangat indah jika mekar berbunga semua secara bersamaan. Hanya saja, jumlah tumbuhan teratai ini semakin lama semakin berkurang, dan sepertinya terdesak oleh tumbuhan eceng gondok yang juga semakin menguasai danau.


Danau Mawang merupakan serapan air untuk Sungguminasa. Namun seiring berjalannya waktu, terjadi pendangkalan yang semakin luas. Luasnya danau Mawang sekitar 50 hektar, namun semakin hari semakin menyempit. Pemerintah kabupaten Gowa sepertinya tidak peduli dengan danau Indah ini. Kalau saja pemerintah mau berusaha membangun sarana dan prasarana pariwisata disekitar danau, tentulah akan banyak wisatawan yang akan datang.


Pertama-tama, yang harus dilakukan adalah pengerukan danau, terutama pinggirannya. Kalau tidak dikeruk, suatu hari, danau ini akan hilang dari peta Gowa, dan mungkin saja menjadi lokasi perumahan. Kedua perlu dibangun balai balai untuk dijadikan tempat duduk pengunjung. Taman taman kecil tempat menggelar tikar juga sesuatu yang akan menarik pengunjung. Bisa juga dibuatkan rumah rumah ditepian danau khusus bagi pengunjung yang akan memancing. Pemerintah juga bisa menyiapkan perahu perahu bebek seperti yang ada di pantai Losari. Taman kecil, track jogging, track sepeda, sepaturoda juga tentu akan menarik perhatian pengunjung. Dengan ramainya pengunjung, penduduk diwilayah sekitar danau, bisa meningkatkan pendapatannya dengan menjual misalnya souvenir, makanan dan minuman, atau bahkan tempat penyewaan tikar.

Ini hanya pemikiran saya, sebagai orang yang sering berkunjung ke danau Mawang. Semoga saja ada keperdulian dari pemerintah daerah Gowa, atau Provinsi Sulawesi Selatan agar dapat membangun dan menjadikan danau Mawang sebagai salah satu tujuan wisata di Gowa. Semoga saja.


Wednesday, November 23, 2016

Kisah Kartu Kredit


Beberapa waktu lalu, pada salah satu koran lokal di Makassar, saya membaca berita tentang seorang yang memiliki lebih dari 3.000 kartu kredit. Pemilik kartu kredit tersebut bukan orang Indonesia tapi orang Amerika Serikat. Entah bagaimana orang tersebut mengurus dan mengelola kartu kredit sebanyak itu. Setahu saya, satu atau dua buah kartu kredit saja sudah merepotkan, apalagi sampai lebih dari 3000 buah. Dikoran lokal maupun nasional, hampir setiap hari terungkap lewat surat pembaca tentang permasalahan yang dihadapi para pemegang kartu kredit. Ada yang susah menutup kartu kreditnya, ada yang secara diam diam kartu kreditnya digunakan orang lain, ada yang tertipu dengan cicilannya, ada yang sudah menutup kartu kreditnya tapi tagihannya tetap jalan, bahkan ada yang sampai dianiaya oleh para debt-collector.


Saya salah satu diantara sekian banyak orang yang tidak memiliki kartu kredit sampai sekarang. Entah dimasa depan, tapi sepertinya saya tidak pernah tertarik memilikinya. Hampir setiap hari selalu saja ada dua atau tiga orang SPG (Sales Promotion Girls) datang kekantor kami menawarkan kartu kredit kepada para pegawai dikantorku disalah satu kantor pemerintah. Namun saya tetap bertahan untuk tidak menggunakan kartu kredit untuk segala transaksi keuangan saya. Di kantor kami, rata-rata yang memiliki kartu kredit adalah para pejabat, atau yang bukan pejabat tapi memiliki bisnis diluar kantor.

Mengapa saya sampai tidak tertarik memiliki kartu kredit. Ada kisah nyata yang saya alami sendiri yang terjadi 1997 atau 1998 lalu. Waktu itu saya baru saja diterima bekerja sebagai PNS (Pegawai Negeri Sipil) pada salah satu kantor pemerintah. Semua urusan keuangan PNS dikantorku dikelola oleh salah satu Bank pemerintah dikotaku. Jadi sayapun sering bolak balik ke Bank tersebut untuk transaksi keuangan, baik untuk menabung, mengambil gaji, mentransfer uang dan lain lain. Begitu pula teman kantorku sesama PNS lainnya.


Pada suatu hari saya berada di Bank pemerintah tersebut untuk mengurus kartu ATM. Waktu itu belum banyak PNS yang menggunakan kartu ATM. Masih banyak yang lebih suka antri dikasir Bank saat gajian tiba. Saya lebih suka yang praktis dan tidak mau repot repot antri gajian di bank. Setelah urusah kartu ATM selesai, saya didekati oleh salah seorang pegawai wanita bank tersebut dan ditawari untuk memiliki kartu kredit. Saya sebenarnya tidak terlalu tertarik, karena kupikir, jumlah gaji PNS tidaklah mencukupi untuk memiliki kartu kredit. Namun pegawai bank tersebut terus meyakinkan saya tentang segala keuntungan dan kelebihan kartu kredit. Akhirnya sayapun mendaftar, didepan konter kartu kredit dibank tersebut. Semua informasi tentang diri saya sebagai PNS kuisikan pada surat permohonan kartu kredit yang diberikan, dan tentu saja semua kuisi dengan jujur sampai selesai, dan kembali kekantor.


Beberapa bulan kemudian, belum juga saya menerima kartu kredit yang dijanjikan. Saya kemudian berangkat keluarnegeri untuk melanjutkan pendidikan S2 saya setelah lulus tes beasiswa dari salah satu negara maju. Saat diluar negeri saya menelpon ke keluarga di Makassar menanyakan apakah sudah ada diterima kartu kredit dari salah satu bank. Setiap kali saya menelpon, jawaban keluarga selalu “belum ada!”. Namun pada suatu hari saya menelpon lagi, dan keluargaku memberi informasi tentang surat dari Bank. Saat kutanyakan, apakah ada kartu kredit didalam surat tersebut, keluargaku menjawab ‘tidak ada’ dan katanya lagi, “permohonan kartu kreditmu ditolak oleh Bank, karena gajimu tidak mencukupi!”. Terus terang, saya tidak kaget dan malah sudah memperkirakan hal itu, karena kupikir kalau sampai berbulan bulan tidak ada jawaban, pasti permohonan itu ditolak. Lagi pula waktu itu saya hanya PNS baru golongan 3A dengan gaji yang pas-pasan. Akhirnya saya pun melupakan peristiwa itu.


Di luarnegeri, saya kuliah dan menggunakan kartu ATM yang juga berfungsi sebagai kartu Debet. Semua berjalan lancar, bahkan penggunaan kartu ATM sebagai kartu Debet juga sangat praktis. Hampir semua toko dan mall bisa menerimanya. Sampai saya pulang ke Indonesia kembali setelah tinggal 2,5 tahun diluar negeri, saya tetap tidak memiliki kartu kredit.


Sekarang, setelah kembali ke Indonesia (Makassar) dan kembali bekerja di kantor pemerintah yang telah saya tinggalkan untuk belajar, saya masih sering saja ditawari kartu kredit oleh para SPG atau SPB (Sales Promotion Boy) dari berbagai Bank. Ketika saya ungkapkan tentang gajiku yang tidak mencukupi, para sales itu kemudian berkilah, “Oh, itu bisa diatur pak, dengan bendahara gaji!”. Namun saya tetap menolak “mengatur” besaran jumlah gaji dengan bendahara gaji. Kupikir, disinilah awal mula segala permasalahan dengan kartu kredit tersebut. Gaji tidak mencukupi tapi dengan cara bekerja sama dengan bendahara gaji di kantor kantor pemerintah untuk menyebut jumlah gaji yang lebih besar dari sebenarnya pada surat permohonan, untuk mendapatkan kartu kredit.


Saya sudah golongan 4 sebagai PNS tapi sampai sekarang, saya merasa mungkin gaji saya tetap belum mencukupi untuk membayar tagihan tagihan kartu kredit. Para SPG kartu kredit itu sering berkata bahwa dengan memiliki kartu kredit, kita gampang transaksi kalau keluar negeri. Dalam hati saya berkata, saya sudah berkunjung ke beberapa negara dan tanpa menggunakan kartu kredit dan semua lancar lancar saja. Atau mungkin karena saya memang kalau keluar negeri tidak bermaksud memborong semua barang barang mahal. Saya hanya membeli baju kaos atau gantungan kunci untuk oleh-oleh anak-anakku, teman kerja, tetangga dan kerabat hahahahha 