Saturday, December 3, 2016

Merajut Kenangan di Acara Reuni SASTRA 86

Reuni dengan teman lama selalu menyenangkan dan membahagiakan. Bertemu dengan teman, sahabat lama saat masih kuliah, atau masih sekolah, sambil bercanda tentang hal hal konyol dan menggelikan yang terjadi dimasa lalu akan membuat kita bahagia. Bahkan Richard Paul Evans dalam bukunya “Lost December” menulis bahwa “…the sweetness of reunion is the joy of heaven…”. (indahnya pertemuan saat reuni bagaikan kenikmatan surgawi).


Berawal dari saling kontak antar taman teman kampus dulu di Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Budaya atau FIB) Angkatan 86, Universitas Hasanuddin Makassar. Kami saling kontak awalnya lewat media sosial Facebook. Ada juga media sosial lain misanya BBM (Blackberry Messenger), WA (Whatsap), LINE. Ketika ada teman lain yang baru ‘ditemukan’ maka segera dimasukkan dalam group kami, sehingga semakin lama semakin banyak teman angkatan yang turut berpartisipasi dalam obrolan di media sosial.


Tidak semua hal yang diobrolkan dimedia sosial menggembirakan. Kenyataan bahwa beberapa orang teman seangkatan kami di Fakultas, sudah terlebih dulu menghadap sang Khalik, adalah hal yang menyedihkan. Atau berita tentang status pernikahan teman teman yang tidak langgeng dan berita lainnya. Namun hal itu tidak mengurangi semangat kami untuk turut serta dalam pertemuan (Reuni) akbar angkatan kami Sastra 86.


Diawali dengan pertemuan kecil beberapa teman dan membentuk arisan Sastra 86, lalu berkembang dan membentuk panitia Reuni Sastra 86, akhirnya kami pun sepakat untuk melaksanakan acara Reuni Akbar Sastra 86 Universitas Hasanuddin. Spanduk bertuliskan “Ramah Tamah dan Napak Tilas, Kenangan 30 Thn lalu”. Angkatan kami terdiri dari berbagai jurusan, yaitu Linguistik, Sastra Indonesia, Sastra Asia Barat, Sastra Daerah, Sejarah dan Arkeologi, Sastra Inggris, dan Sastra Prancis. Setiap jurusan dikordinir oleh seorang kordinator jurusan. Kesepakatan acara Reuni dilaksanakan pada hari Sabtu – Minggu 14-15 Mei 2016 di Pantai Wisata Galesong Utara di kabupaten Takalar.


Pada hari Reuni tiba, kami pun berkumpul di kampus Universitas Hasanuddin tepatnya di Fakultas Sastra. Panggung dibelakang Aula Mattulada dibagian FIS (Fakultas Ilmu Sosial) telah disiapkan. Acara pagi itu dikampus diisi dengan kata sambutan Panitia, para dosen, dan beberapa alumni. Juga ada pemberian souvenir kenangan dari Alumni kepada para Dosen. Sebelum berangkat ke Pantai Wisata Galesong Utara, para peserta makan siang yang telah disiapkan oleh Panitia.


Selanjutnya peserta Reuni berangkat ke Galesong Utara, dengan menggunakan 2 bus yang disiapkan panitia. Sebagian besar peserta menggunakan kendaraan pribadi masing masing. Sehingga bus yang disiapkan tidak terisi penuh. Hanya peserta yang dari luar daerah yang naik bus, termasuk saya. Perbincangan kami tidak pernah terhenti selama dalam perjalanan. Berbagai kisah nostalgia selama kuliah di Sastra Unhas muncul dalam perbincangan sampai kami tiba di Pantai Wisata Galesong Utara.


Suasana tempat reuni di Pantai Wisata sangat ramai saat kami tiba. Sopir bus kami susah cukup lama menunggu sampai mendapatkan tempat parkir. Panitia reuni sudah tiba sebelum kami, jadi mereka telah mengatur kamar kamar yang akan kami tempati. Saya sebenarnya tidak punya nama dipintu kamar, namun karena beberapa peserta yang tidak datang yang bisa saya gantikan tempatnya.


Malam hari, kami berkumpul di Aula utama ditepian pantai. Malam ramah tamah yang juga dihadiri oleh Dekan Fakultas llmu Budaya (FIB) Universitas Hasanuddin, Prof. Burhanuddin Arafah. Acara ramah taman, diisi dengan makan malam bersama, ramah tamah, sambutan dari Dekan FIB, ketua panitia, dan alumni. Sebagian teman juga bernyanyi bersama, serta panayangan foto foto jadul saat masih aktif kuliah. Sepanjang malam berlalu dalam keriangan dan kebahagiaan para peserta yang puluhan tahun tidak saling bertemu dan berkomunikasi. Banyak kisah kisah muncul, baik kisah percintaan, kisah lucu dengan dosen dan lain lain. Bahkan ketika kami sudah dikamar pun kisah kisah itu masih terus berlanjut sampai dini hari.


Pagi hari, para anggota SASTRA 86 senam pagi ditepi kola renang dan kemudian sarapan. Sebelum kembali ke Makassar, masih ada acara games, yang mempererat tali silaturrahim. Banyak hal hal lucu yang terjadi saat permainan game, dan meskipun usia kami semua sudah Jelita (jelang limapuluh tahun) namun ternyata masih cukup gesit semua saat game. Sayang sekali karena acara reuni hanya dua hari satu malam. Serasa masih banyak yang ingin diperbincankan dengan teman teman seangkatan. Masih banyak hal yang belum terungkap. Namun banyak tugas menanti sehingga acara reuni hanya bisa dilaksanakan diakhir pekan.


Semua nampak bahagia. Ya….seperti yang disebutkan oleh kata Dr Priguna Sidharta "Reuni", "selain untuk memutar longterm memory di hipocampus, juga untuk memperbaiki fungsi nucleus accumbens, bagian otak yg mengurus kesenangan".

(Sumber Gambar: dari group WA Sastra 86)


Friday, November 25, 2016

The Old Manuscript of Bugis and Makassar


The Bugis and Makassar ethnic groups in South Sulawesi are including two of the few ethnics in Indonesia who has a tradition of writing. Letters or script used by the Bugis people since hundreds of years ago is the Lontara script. The Lontara is derived from “lontar” or palm (leaves) where the original scripts were written on. Lontara itself is named "uki Ugi'sulapa eppa'" (Dr. Mukhlis Paeni in Nusantara Manuscript Catalogue). Makassar ethnic group is also has its own letter, called script 'jangang jangang' which resemble the original form or shape of the bird, so-called 'jangang jangang'. In further developments jangang-jangang script is rarely used and the Uki Sulapa Eppa is more frequently used for both Bugis and Makassar writing system. According to historians, the script lontara 'Uki sulapa eppa' and 'jangan jangan' script are both derived characters from the Indian's Sanskrit.

A lot of Bugis ancient manuscripts stored in the Library and Archives of South Sulawesi, consisting of a variety of characters, namely lontara Bugis, lontara jangang-jangang script, 'serang' script (written of Bugis or Makassar using the Arabic script), and the manuscripts writteh in Arabic scripts especially for religious purposes. Some of those manuscripts are already difficult to read, both the original manuscript and its microfilm. This is because the manuscripts are already too old and very fragile manuscript, the ink used has also been seep into the paper, there are also a lot pages missing or torn.


In the Regional Library and Archive of South Sulawesi it is also well preserved the ancient Bugis manuscripts written on palm leaves. The manuscript is in the form of palm leaf roll. According to the experts this manuscript was written by using a kind of nail to scratch the letter on the palm leaves carefully due to the nature of palm leaves which are easily torn. After one piece of writing, the scripts then dusted with black powder so that the writing visible and clearly legible. When a strand was finished then connected with the previous piece by stitching using a needle and thread. When a manuscript is considered finished then pieces of palm leaves are rolled up and made the rolls for easy reading. How to read the manuscript? In a position sitting cross-legged with hands palm leaf rollers rotating rolls. The reading usually accompanied by a ritual. Family-tree manuscripts usually read in the evening before the wedding ceremony. The purposes are to make sure that the bride-to-be or groom-to-be are both from the noble blood.


The number of manuscripts lontara of Bugis, Makassar and Mandar stored preserved in the Regional Library and Archive of South Sulawesi is 4049 manuscripts. Those manuscripts all have been microfilmed. Researchers or students who need the manuscripts will only access the microfilmed manuscripts. The original manuscripts are already inaccessible, due to the nature of the paper which is already very fragile. The original manuscripts are usually only for display at an exhibition. The microfilmed lontara manuscripts are now accessible by using the Microfilm reader. Various topics written on Bugis manuscripts such as astrological 'kutika' which described about the good days and bad days to perform wedding ceremony, build and erect new houses (the house building of the Bugis and Makassar people are houses on stilts), beginning the day working the fields, and other forecasts. The using of herbal is written in the manuscript lontara pabbura'. Various types of mixed and herbaceous plants used to treat certain diseases. There's also called lontara Baddili 'Lompoa that is lontara manuscript that discusses the strategies of war and weapons. Another manuscript, talks about different ways of farming called lontara 'Paggalung, tasauf tale story, Syech Yusuf's teachings, religious manuscripts, sex education (lontara akkalaibinengeng), disposition of animals, genealogy (Lontara Pangoriseng), Lontara' alloping- loping which is lontara who investigated the procedures for sailing and fishing. There is also lontara 'pattaungeng which is a diary or chronicles of the ancient Bugis Kingdom and others (Rumpakna Bone, translation by Drs. Muhammad Salim 1991).


Literary works of Bugis usually consists of poetic literature such as the epic I La Galigo, Tolo ', Meongpalo, Sure' Selleyang, Ugi Elong. While lontara 'which consists of example sentences concatenated lontara saga, story, tasauf, and other religious lontara. The number of letters from the lontara type array is different. Elong Ugi usually consists of three lines each number of letters (lontara ') his or syllables in the Latin alphabet 8', 7 and 6. Sometimes it consist of only two rows but the number of syllables will always be 21. The Tolo ', Menrurana, and Meongpalo is composed of lines that connect array consisting of eight syllables or 8 letters of Bugis. I La Galigo and Sure 'Selleyang have amount of lines of 5, 5, 5 or 10, 10, 10.


It is unfortunate that the younger generation seems uninterested in examining the manuscript or lontara Bugis and Makassar. In fact, lontara 'Bugis and Makassar is one aspect of local culture containing noble cultural values of the nation. Without attempts to preserve the manuscript lontara Bugis and Makassar it is feared that the Bugis and Makassar younger generation will lose their identity and works of literature will be extinct.



Thursday, November 24, 2016

Danau Mawang yang Indah namun Terabaikan


Danau Mawang adalah sebuah danau kecil yang terletak di kelurahan Romang Lompoa, kecamatan Bontomarannu, Gowa. Jarak dari rumah tempat tinggal kami hanya sekitar tiga kilometer saja. Karena jaraknya yang dekat itu, maka tempat ini seringkali menjadi tempat alternatif bagi saya sekeluarga untuk dikujungi diakhir pekan. Sebenarnya danau ini tidaklah menarik, karena tidak ada tempat duduk duduk bagi pengunjung misalnya, tidak ada tempat yang cukup lapang dan luas untuk menggelar tikar, tidak ada balai balai yang bisa dijadikan tempat berteduh dan memandang kearah danau. Hal yang paling tepat dilakukan disekitar danau kecil ini hanyalah memancing, olahraga lari atau jogging atau bersepeda.


Saya biasanya datang ke danau ini saat sore hari dihari sabtu atau minggu bersama anak anak. Kadang kadang juga bersama istri kalau dia lagi tidak sibuk dirumah. Kami biasanya hanya datang ke tempat yang indah ini hanya untuk memotret, melihat lihat orang memancing ikan, memandangi bunga bunga teratai putih dan pink. Bunga bunga teratai yang tumbuh didanau Mawang ini sangat indah jika mekar berbunga semua secara bersamaan. Hanya saja, jumlah tumbuhan teratai ini semakin lama semakin berkurang, dan sepertinya terdesak oleh tumbuhan eceng gondok yang juga semakin menguasai danau.


Danau Mawang merupakan serapan air untuk Sungguminasa. Namun seiring berjalannya waktu, terjadi pendangkalan yang semakin luas. Luasnya danau Mawang sekitar 50 hektar, namun semakin hari semakin menyempit. Pemerintah kabupaten Gowa sepertinya tidak peduli dengan danau Indah ini. Kalau saja pemerintah mau berusaha membangun sarana dan prasarana pariwisata disekitar danau, tentulah akan banyak wisatawan yang akan datang.


Pertama-tama, yang harus dilakukan adalah pengerukan danau, terutama pinggirannya. Kalau tidak dikeruk, suatu hari, danau ini akan hilang dari peta Gowa, dan mungkin saja menjadi lokasi perumahan. Kedua perlu dibangun balai balai untuk dijadikan tempat duduk pengunjung. Taman taman kecil tempat menggelar tikar juga sesuatu yang akan menarik pengunjung. Bisa juga dibuatkan rumah rumah ditepian danau khusus bagi pengunjung yang akan memancing. Pemerintah juga bisa menyiapkan perahu perahu bebek seperti yang ada di pantai Losari. Taman kecil, track jogging, track sepeda, sepaturoda juga tentu akan menarik perhatian pengunjung. Dengan ramainya pengunjung, penduduk diwilayah sekitar danau, bisa meningkatkan pendapatannya dengan menjual misalnya souvenir, makanan dan minuman, atau bahkan tempat penyewaan tikar.

Ini hanya pemikiran saya, sebagai orang yang sering berkunjung ke danau Mawang. Semoga saja ada keperdulian dari pemerintah daerah Gowa, atau Provinsi Sulawesi Selatan agar dapat membangun dan menjadikan danau Mawang sebagai salah satu tujuan wisata di Gowa. Semoga saja.


Wednesday, November 23, 2016

Kisah Kartu Kredit


Beberapa waktu lalu, pada salah satu koran lokal di Makassar, saya membaca berita tentang seorang yang memiliki lebih dari 3.000 kartu kredit. Pemilik kartu kredit tersebut bukan orang Indonesia tapi orang Amerika Serikat. Entah bagaimana orang tersebut mengurus dan mengelola kartu kredit sebanyak itu. Setahu saya, satu atau dua buah kartu kredit saja sudah merepotkan, apalagi sampai lebih dari 3000 buah. Dikoran lokal maupun nasional, hampir setiap hari terungkap lewat surat pembaca tentang permasalahan yang dihadapi para pemegang kartu kredit. Ada yang susah menutup kartu kreditnya, ada yang secara diam diam kartu kreditnya digunakan orang lain, ada yang tertipu dengan cicilannya, ada yang sudah menutup kartu kreditnya tapi tagihannya tetap jalan, bahkan ada yang sampai dianiaya oleh para debt-collector.


Saya salah satu diantara sekian banyak orang yang tidak memiliki kartu kredit sampai sekarang. Entah dimasa depan, tapi sepertinya saya tidak pernah tertarik memilikinya. Hampir setiap hari selalu saja ada dua atau tiga orang SPG (Sales Promotion Girls) datang kekantor kami menawarkan kartu kredit kepada para pegawai dikantorku disalah satu kantor pemerintah. Namun saya tetap bertahan untuk tidak menggunakan kartu kredit untuk segala transaksi keuangan saya. Di kantor kami, rata-rata yang memiliki kartu kredit adalah para pejabat, atau yang bukan pejabat tapi memiliki bisnis diluar kantor.

Mengapa saya sampai tidak tertarik memiliki kartu kredit. Ada kisah nyata yang saya alami sendiri yang terjadi 1997 atau 1998 lalu. Waktu itu saya baru saja diterima bekerja sebagai PNS (Pegawai Negeri Sipil) pada salah satu kantor pemerintah. Semua urusan keuangan PNS dikantorku dikelola oleh salah satu Bank pemerintah dikotaku. Jadi sayapun sering bolak balik ke Bank tersebut untuk transaksi keuangan, baik untuk menabung, mengambil gaji, mentransfer uang dan lain lain. Begitu pula teman kantorku sesama PNS lainnya.


Pada suatu hari saya berada di Bank pemerintah tersebut untuk mengurus kartu ATM. Waktu itu belum banyak PNS yang menggunakan kartu ATM. Masih banyak yang lebih suka antri dikasir Bank saat gajian tiba. Saya lebih suka yang praktis dan tidak mau repot repot antri gajian di bank. Setelah urusah kartu ATM selesai, saya didekati oleh salah seorang pegawai wanita bank tersebut dan ditawari untuk memiliki kartu kredit. Saya sebenarnya tidak terlalu tertarik, karena kupikir, jumlah gaji PNS tidaklah mencukupi untuk memiliki kartu kredit. Namun pegawai bank tersebut terus meyakinkan saya tentang segala keuntungan dan kelebihan kartu kredit. Akhirnya sayapun mendaftar, didepan konter kartu kredit dibank tersebut. Semua informasi tentang diri saya sebagai PNS kuisikan pada surat permohonan kartu kredit yang diberikan, dan tentu saja semua kuisi dengan jujur sampai selesai, dan kembali kekantor.


Beberapa bulan kemudian, belum juga saya menerima kartu kredit yang dijanjikan. Saya kemudian berangkat keluarnegeri untuk melanjutkan pendidikan S2 saya setelah lulus tes beasiswa dari salah satu negara maju. Saat diluar negeri saya menelpon ke keluarga di Makassar menanyakan apakah sudah ada diterima kartu kredit dari salah satu bank. Setiap kali saya menelpon, jawaban keluarga selalu “belum ada!”. Namun pada suatu hari saya menelpon lagi, dan keluargaku memberi informasi tentang surat dari Bank. Saat kutanyakan, apakah ada kartu kredit didalam surat tersebut, keluargaku menjawab ‘tidak ada’ dan katanya lagi, “permohonan kartu kreditmu ditolak oleh Bank, karena gajimu tidak mencukupi!”. Terus terang, saya tidak kaget dan malah sudah memperkirakan hal itu, karena kupikir kalau sampai berbulan bulan tidak ada jawaban, pasti permohonan itu ditolak. Lagi pula waktu itu saya hanya PNS baru golongan 3A dengan gaji yang pas-pasan. Akhirnya saya pun melupakan peristiwa itu.


Di luarnegeri, saya kuliah dan menggunakan kartu ATM yang juga berfungsi sebagai kartu Debet. Semua berjalan lancar, bahkan penggunaan kartu ATM sebagai kartu Debet juga sangat praktis. Hampir semua toko dan mall bisa menerimanya. Sampai saya pulang ke Indonesia kembali setelah tinggal 2,5 tahun diluar negeri, saya tetap tidak memiliki kartu kredit.


Sekarang, setelah kembali ke Indonesia (Makassar) dan kembali bekerja di kantor pemerintah yang telah saya tinggalkan untuk belajar, saya masih sering saja ditawari kartu kredit oleh para SPG atau SPB (Sales Promotion Boy) dari berbagai Bank. Ketika saya ungkapkan tentang gajiku yang tidak mencukupi, para sales itu kemudian berkilah, “Oh, itu bisa diatur pak, dengan bendahara gaji!”. Namun saya tetap menolak “mengatur” besaran jumlah gaji dengan bendahara gaji. Kupikir, disinilah awal mula segala permasalahan dengan kartu kredit tersebut. Gaji tidak mencukupi tapi dengan cara bekerja sama dengan bendahara gaji di kantor kantor pemerintah untuk menyebut jumlah gaji yang lebih besar dari sebenarnya pada surat permohonan, untuk mendapatkan kartu kredit.


Saya sudah golongan 4 sebagai PNS tapi sampai sekarang, saya merasa mungkin gaji saya tetap belum mencukupi untuk membayar tagihan tagihan kartu kredit. Para SPG kartu kredit itu sering berkata bahwa dengan memiliki kartu kredit, kita gampang transaksi kalau keluar negeri. Dalam hati saya berkata, saya sudah berkunjung ke beberapa negara dan tanpa menggunakan kartu kredit dan semua lancar lancar saja. Atau mungkin karena saya memang kalau keluar negeri tidak bermaksud memborong semua barang barang mahal. Saya hanya membeli baju kaos atau gantungan kunci untuk oleh-oleh anak-anakku, teman kerja, tetangga dan kerabat hahahahha 


Saturday, November 19, 2016

Johanna Sattar, penyanyi idola Ibuku dimasa lalu...



Akhir akhir ini, saya menikmati mendengar lagu lagu lama Johanna Sattar, penyanyi lagu Melayu yang tenar diera 1950an – 1970an. Meskipun saya terlahir ketika ketenarannya sudah mulai memudar namun, saya kenal betul dengan nama Johanna Sattar ini, karena almarhumah ibuku mengidolakan beliau. Ibuku semasa hidupnya, seringkali menceritakan tentang kesukaannya terhadap penyanyi Johanna Sattar. Kata ibuku, meskipun tengah malam, kalau tiba tiba diradio terdengar Johanna Sattar menyanyi, maka dia akan terbangun dan menikmati lagunya sampai habis….. Ibuku ketika itu hanya menikmati lagu lagu Johanna Sattar ini dari Radio, karena masa itu hanya Radio satu satunya sarana hiburan dikampung. Diera 1960an, kasetpun belum ada dikampung. Bisa dibayangkan bagaimana susahnya menikmati lagu lagu dari penyanyi favorit kita, karena hanya bisa menunggu sampai lagu lagunya diputar di Radio. Karena ibuku sangat hapal lagu lagu Johanna Sattar, maka saya berkesimpulan bahwa radio radio pada masa itu tentu sangat sering memutar lagu lagunya.



Lagu lagu Johanna Sattar yang kunikmati itu berasal dari Youtube yang kuunduh (download) langsung ke dalam laptopku dalam format Mp3. Awalnya saya mencari video lagunya Duo Alfin saat menyanyikan lagu “Untuk Bungaku” pada acara kontes lagu D’Academy 3 pada salah satu stasiun TV. Setelah kutemukan dan kuunduh, kemudian disisi kanan layar, banyak ‘terhidang’ menu lagu lama lama yang sama dan seirama dengan lagu Duo Alfin tersebut. Ternyata lagu “Untuk Bungaku” ini adalah lagu lama dari penyanyi Melayu bernama Muhammad Mashabi. M. Mashabi ini juga ternyata penyanyi tenar diera 1960an. Banyak komentar dari penonton di Youtube yang menceritakan tentang ketenaran M. Mashabi ini. Dari video Youtube M. Mashabi ini baru kutahu kalau lagu lagu “Kecewa” yang populer dinyanyikan oleh Iis Dahlia, berasal dari Album lagu M. Mashabi dan Johanna Sattar ini dan dinyanyikan oleh Johanna Satar.



Di Youtube ada satu Album (aslinya dalam bentuk Kaset) yang berisi lagu lagu M. Mashabi dan Johanna Sattar. Dalam album ini, M. Mashabi menyanyikan 11 lagu pada side A, dan Johanna Sattar juga menyanyikan 11 lagu pada side B. Bagusnya lagi karena keseluruhan lagu ini bisa diunduh sekaligus. Sayangnya ada 2 lagu yang kurang bagus kualitasnya, yang jika diputar keseluruhan berlangsung sekitar 44 menit. Selain itu, juga banyak lagu tunggal (single) Johanna Sattar yang dapat diunduh misalnya lagu, ‘Ditinggal Pergi’, ‘Keluhan Anak Yatim’, ‘Ketjewa’, ‘Pudjaanku’, ‘Rintihan Sukma’, ‘Usah kau Kenang’, ‘Tinggal Kenangan’, ‘Putus Asa’, ‘Tiada Guna’, ‘Qais dan Laila’, ‘Sesal dan Derita’, dan lain lain.



Johanna Sattar ini ternyata ejaan namanya bermacam macam di dunia maya (web). Ada yang menulis Juhana Satar, Djuhana Satar, Juana Sattar, Djohana Satar. Ibuku menyebut namanya dengan nama Johanna Sattar, dengan 2 ‘n’ dan 2 ‘t’. Orkes musik yang mengiringi Johanna Sattar menyanyi juga ada beberapa misalnya, Orkes Bukit Siguntang, OM (Orkes Melayu) Chandralela, Orkes Kelana Ria dan OM Pantjaran Muda. Kalau kita mendengar lagu lagunya, kedengaran sendu dan serasa mengharukan. Mungkin jenis vocal-nya memang seperti itu, apalagi lagu lagunya memang lagu sendu dan sedih.
Yang membuat saya penasaran adalah, mengapa Johanna Sattar ini benar benar ‘hilang’ dalam pemberitaan media selama periode 1970-an – 1990-an? Kalau misalnya Johanna Sattar begitu tenar diera 1950an dan 1960an, almarhum ibuku dulu begitu mengidokan beliau, lalu mengapa saya tidak pernah menemukan satu artikelpun tentang dia? Bahkan disalah satu sampul kasetnya di Youtube, penyanyi ini berdampingan dan menyanyi satu Album dengan Elvi Sukaesih yang menjadi ratu Dandut saat ini. Kemunculan Johanna Sattar baru ada di web pada situs Youtube, dimana selain banyak video lagu lagunya, juga ada video wawancaranya saat beliau menghadiri acara Festifal Lagu Melayu di Jakarta. Ternyata beliau masih segar bugar, meski sudah berusia 70an tahun. Ada yang mengatakan beliau saat ini tinggal di Bogor ada juga yang menyebutnya di Garut. Entah yang mana yang benar.



Yang membuatku sedih dan haru adalah kenyataan bahwa saya baru menemukan lagu lagu Johana Satar di Youtube setelah ibuku wafat 5 tahun lalu. Saya bisa membayangkan betapa gembiranya ibuku kalau saja beliau sempat mendengar kembali lagu lagu kesayangannya diera 1950an dan 1960 yang dinyanyikan penyanyi idolanya; Johanna Sattar, kalau saja masih hidup bersama kami saat ini. Akan kuperdengarkan kepada ibuku lewat laptop-ku dengan menggunakan speaker besar. Ibuku pasti akan ikut bersenandung…..

“ ♪ ada kalanya ♫ hatiku ingin tahu,
♫ dimasa dikau ♫ membisu ♪ tak berkata,
♪ bagaikan ♫ menyimpan ♫rahasia…♪… (lirik lagu “Pudjaanku”)

(Sumber Gambar : dari Google dan youtube)



Friday, June 24, 2016

Tragedi di Malam 17 Agustus


Pernahkah anda berada pada suatu peristiwa dimana kemudian terjadi pembunuhan? Semoga saja tidak. Kisah ini adalah kejadian nyata yang terjadi puluhan tahun lalu ketika saya masih SMP dikampunghalaman saya di PalattaE, Bone bagian selatan, diawal 1980an. Kejadian yang begitu membekas dalam ingatan saya yang saat itu baru beranjak dari masa kanak kanak ke masa remaja.


Tanggal dan tahun peristiwa tersebut sudah tidak kuingat lagi, karena sudah puluhan tahun berlalu. Yang saya masih ingat adalah malam itu malam perayaan 17 Agustus. Menjelang 17 Agustus, keadaan ibukota kecamatan Kahu yaitu Palattae ramai karena kedatangan para peserta perkemahan dari semua desa di Kecamatan Kahu. Waktu itu ada 10 desa. Sekarang ini sudah lebih dari 10 karena banyak desa baru hasil pemekaran. Peserta perkemahan mulai dari SD, SMP dan SMA. Kalau siang hari diadakan lomba olahraga seperti sepakbola, volly, sepak takraw dan lain lain, maka pada malam hari adalah lomba seni. Ada lomba baca puisi, tari, seni suara, folk song, qasidah.
Pada malam kejadian itu, saya mengajak ibu saya untuk pergi ke kantor kecamatan tempat perlombaan seni berlansung. Baru kali itu juga ibuku mau pergi menonton, dan ayahku tinggal dirumah, karena ada beberapa orang tetangga yang datang ngobrol dirumah. Biasanya ayah dan ibuku baru datang keperayaan jika malam penutupan tiba, ketika para pemenang perlombaan diumumkan dan diberi hadiah. Malam penutupan biasanya akan dihadiri oleh pak Camat dan unsur pimpina kecamatan lainnya.


Suasana malam itu seperti biasa, masih remang remang didepan kantor Kecamatan. Listrik sudah ada tapi belum maksimal digunakan. Bagian yang paling terang hanya diteras kantor camat, dimana semua pertunjukan berlansung. Sementara bagian penonton hanya sedikit yang diterangi lampu. Bersama ibuku, saya memilih bagian kiri pintu masuk kantor camat, tidak jauh dari dekker yang ada dipinggiran jalan poros. Tempatku berdiri sebenarnya kurang strategis karena saya tidak bisa melihat secara keseluruhan peserta lomba. Apalagi banyak orang dewasa yang lebih tinggi badannya dibagian depan. Tapi saya dan ibuku tidak bisa lagi lebih kedepan karena padatnya pengunjung. Perayaan yang hanya sekali setahun membuat para pengunjung berdatangan dari berbagai desa disekitar, bahkan dari kecamatan sebelah yang desanya dekat dari Palattae.


Belum lama kami berdiri menonton, tiba tiba terjadi kepanikan dari para penonton. Ya, terjadi penikaman terhadap salah seorang penonton laki laki. Tempat kejadian itu tidak jauh dari tempatku berdiri bersama ibuku, karena saya masih mendengar korbannya berteriak teriak, “mate’na…mate’na” (mati aku mati aku!). Suasana remang remang, sehinga saya tidak bisa melihat pelaku dan korban, tapi jaraknya dekat sehingga jeritan korban masih kudengar jelas sebelum tenggelam oleh suara penonton lainnya yang berlarian dengan kepanikan luar biasa. Secara spontan ibuku meraih tanganku dan dengan berlari kecil kami pulang kerumah. Sayup sayup masih kudengar keriuhan suasana. Sampai dirumah, ibuku memberitahukan ayah dan tetangga lain yang ada dirumahku tentang kejadian tersebut. Kebanyakan penonton langsung berlarian pulang kerumah, sebagian lagi lari masuk kekantor camat.


Esok paginya, orang orang masih membicarakan peristiwa mengerikan tersebut. Korban penikaman, meninggal dunia dan saya dan beberapa teman SMP masih sempat melihat ceceran darah korban dijalan raya. Korban pada malam kejadian diangkat menggunakan tandu, karena waktu itu Puskesmas (pusat kesehatan masyrakat) belum memiliki mobil ambulans. Saya sudah lupa siapa nama korban dan siapa pelakunya. Kejadian malam itu masih teringat jelas dalam memori saya meski sudah puluhan tahun berlalu.







Wednesday, January 6, 2016

Sydney Harbour Bridge, Icon Sydney dan Australia

Berkunjung ke kota Sydney, serasa belum lengkap tanpa berfoto dengan latar belakang jembatan Sydney Harbour Bridge dan Sydney Opera House. Kedua bangunan ini saling berdekatan dan termasuk dua bangunan icon Australia yang paling banyak menjadi objek foto didunia. Jembatan ini punya nama sebutan khas bagi warga Sydney, yaitu “The Coat Hanger” atau gantungan baju karena bentuknya yang menyerupai gantungan baju dilemari (hanger).
Jembatan Sydney Harbour Bridge adalah jembatan raksasa yang menghubungkan antara pusat bisnis Sydney (CBD, Central Business District) dengan North Sydney. Banyak jalur diatas jembatan ini, karena bisa dilalui oleh kendaraan roda empat dan roda dua, kereta api, dan juga disediakan jalur khusus pejalan kaki.
Pembangunannya dimulai pada tahun Juli 1923 dan selesai Maret 1932 dan diresmikan dan mulai dibuka pada tanggal 19 Agustus 1932. Perancang jembatan megah ini adalah Dr. J.J.C. Bradfield dari New South Wales Department of Public Works. Bradfield terinspirasi oleh jembatan Hell Gate di New York, Amerika Serikat. Ketinggian jembatan dari permukaan air hingga kepuncak konstruksi adalah 134 meter, sementara lebar badan jembatan 49 meter dengan 8 jalur kendaraan bermotor, 2 jalur kereta api, jalur sepeda dan trotoar. Karena lebarnya, jembatan ini tercatat dalam buku rekor dunia (Guiness World Records) sebagai jembatan lengkung besi terlebar didunia. Lajur paling luar jembatan ini adalah trotoar tempat pejalankaki atau jogger (pelari). Bersama teman kuliah dari Indonesia, saya pernah jogging melintasi jembatan ini saat masih di Sydney.
Jembatan ini bukan sekedar penghubung tetapi juga dijadikan obyek wisata oleh pemerintah kota Sydney. Wisatawan baik dari dalam negeri Australia maupun dari luar Australia bisa memanjat jembatan sampai ke puncak lengkungannya. Jembatan ini bersama dengan gedung Sydney Opera House juga banyak menjadi obyek foto pada kalender, wallpaper, postcard, brosur pariwisata, pamflet dan lain lain. Bahkan banyak dijadikan latarbelakang film dan sinema elektronik, film TV, film iklan dan dokumentasi lainnya. Masih ingat film soap opera “Return To Eden”? film Australia yang setiap pekan diputar di TVRI pada akhir 1980an. Film ini pembukaannya memperlihatkan suasan jembatan ini dan gedung opera house. Pada pernerbangan perdana saya dari Denpasar ke Sydney, saat pesawat berada diatas kota Sydney, pilot memiringkan pesawat sedikit dan mengumumkan kepada penumpang tentang pemadangan jembatan dan gedung Opera House ini. Jembatan ini juga selalu menjadi lokasi perayaan pergantian tahun yang meriah. Kembang api diluncurkan dari jembatan ini setiap malam tahun baru, sehingga Sydney selalu menjadi kota dengan perayaan tahun baru paling meriah didunia.
Ujung jembatan dibagian selatan berlokasi di Millers Point dikawasan yang dikenal dengan nama The Rocks, sedangkan ujung utaranya berada di Milsons Point di Sydney Utara. Jalan utama jembatan ini dikenal dengan nama Bradfield Highway panjangnya sekitar 2,4 kilometer atau 1,5 mil. Lengkungan jembatan panjangnya 503 meter dan pada titik puncaknya berjarak 134 meter dari permukaan air sungai (laut). Konstruksi jembatan ini terbuat dari baja yang 79% diimpor langsung dari Inggris, dan sisanya dari Australia sendiri.
Disetiap ujung jembatan terdapat sepasang tiang beton raksasa (pylon) yang dilapisi dengan granit. Perancang tiang jembatan ini adalah arsitek Skotlandia bernama Thomas S. Tait. Keempat pylon diujung jembatan difungsikan pula sebagai museum, dan pusat informasi pariwisata dan wisatawan bisa melihat kota Sydney dan pelabuhan disekitar 360° . Pylon ini dilengkapi dengan CCTV untuk memantau arus lalulintas diatas jembatan. Dua pylon diutara, ada yg difungsikan sebagai saluran pembuangan gas/asap dari terowongan yang ada dibawa laut. Dibawa jembatan terdapat terowongan yang dilalui oleh kendaraan roda empat yang menghubungkan antara Sydney CBD dengan North Sydney. Bagi anda yang akan ke Sydney, jika ingin berfoto dengan latar belakang Sydney Harbour Bridge dan Sydney Opera House, maka lokasi yang terbaik adalah di Mrs. Macquaries Chair, diujung Royal Botanical Garden, seperti foto saya dibawa ini.
Kalau mau lebih dekat, anda bisa jalan jalan ke Sydney Opera House dan berfoto disisi barat gedung dan berfoto dengan latar belakang jembatan. Lebih bagus lagi kalau ada perahu atau kapal ferry yang lewat. Jalan jalan (maksud saya, benar benar jalan kaki) disekitar jembatan dan gedung Opera House juga sangat menyenangkan, karena berbagai tempat wisata bisa disinggahi, ada Museum Seni, ada rumah zaman dulu saat awal imigrasi Eropa ke Australia 300 tahun lalu, ada banyak restoran, bahkan ada kapal pesiar yang merupakan replika kapal kuno yang bisa dipakai keliling pelabuhan Sydney. (Sumber gambar: koleksi pribadi, architecturalpics.com.au, pinterest.com dan melbourneblogger.blogspot.com, abcnews.go.com)