Monday, April 15, 2019

Pelatihan Transformasi Layanan Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial



Baru sebulan lebih saya pindah tugas ke Perpustakaan, ketika pada suatu pagi, atasan saya meminta saya untuk mengikuti pendidikan dan pelatihan di Jakarta. Awalnya saya ragu. Saya merasa tidak banyak tahu soal perpustakaan, dan diklat yang akan saya ikuti adalah diklat perpustakaan. Meskipun saya pernah bekerja paruh waktu (parttime) di perpustakaan kampus UNSW saat masih tinggal di Sydney, tapi itu kan dulu. Ketika saya bertanya kepada atasan saya, apakah pelatihan tersebut mengharuskan pesertanya Pustakawan, atau tidak perlu, dan jawabannya tidak perlu, saya pun mengiyakan. Tapi kembali saya agak ragu ketika disebutkan lamanya diklat adalah 5-6 hari. Wah, kayaknya terlalu lama saya harus tinggalkan bocah bocahku dirumah. Tapi kemudian saya berpikir, saya harus menambah wawasan saya tentang perpustakaan. Akhirnya saya dan seorang teman kantor lainnya mengisi semua dokumen dokumen yang dikirim baik lewat aplikasi WA maupun lewat E-mail.

Senin pagi dengan menggunakan Grab (taxi online) milik dengan driver tetangga sendiri, saya menuju bandara Sultan Hasanuddin. Di Bandara saya bertemu peserta lainnya dari Sulawesi Selatan. 3 kabupaten di Sulawesi Selatan (Bone, Soppeng dan Maros) masing masing mengikutkan 2 orang peserta serta kami dua orang utusan dari Provinsi. Jadi dari Sulawesi Selatan mengirim 8 orang peserta untuk mengikuti pelatihan ini. Pelatihan ini adalah Transformasi Layanan Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial 2019 di selenggarakan oleh Perpustakaan Nasional RI bekerja sama dengan MarkPlus.Inc., bertempat di Swiss Bel Hotel di kawasan Mangga Besar, Jakarta mulai 8 – 13 April 2019. 

Di Bandara Soekarno Hatta, kami para peserta dijemput oleh panitia. Panitia cukup pro aktif dalam melaksanakan tugasnya, karena sejak kami masih di daerah, sudah diberi informasi tentang siapa yang akan menjemput dan jam berapa akan dijemput. Dari Bandara kami dijemput dengan menggunakan minibus oleh panitia, dan dalam bus kami bertemu dengan berbagai peserta dari berbagai provinsi Indonesia. 

Tiba dihotel sudah lewat tengah hari, kami langsung disambut panitia didepan ruang Ballroom Swiss Bel Hotel tempat pembukaan pelatihan. Kamipun segera registrasi dan menyelesaikan segala urusan pelatihan yang akan dilaksanakan selama 5 hari. Registrasi, makan siang, mendapatkan segala perlengkapan dan kunci kamar hotel. Saya termasuk peserta yang lama baru mendapatkan kamar sendiri. Terpaksa saya masih harus duduk duduk dimeja depan registrasi. Untung masih ada welcome drink dan kue kue tersedia di meja. Akhirnya saya mendapatkan juga kamar saya yang akan saya huni selama pelatihan berlangsung 5 hari. Dan ternyata, saya hanya sendirian dikamar, tidak seperti peserta lainnya yang berdua. Mungkin karena ada peserta yang tidak datang, karena ketinggalan pesawat, menurut panitia. 

Masuk kamar hotel, mandi, lalu bersiap siap mengikuti pembukaan. Acara dibuka oleh Deputi Pembinaan Perpustakaan Nasional RI. Acaranya cukup meriah karena ada sekitar 150 orang yang hadir. Dari 150 orang  dibagi menjadi 4 kelas. Hari pertama dan kedua kami masih dalam satu ruang besar di Ballroom. Baru pada hari ke-3 kami terbagi bagi dalam 4 kelas kecil, yaitu kelas A, B, C, dan D. Peserta dari Sulawesi Selatan 8 orang masuk kekelas B bersama peserta lain dari Sumatra Utara, Bengkulu, Maluku Utara, Jawa Barat, dan Kepulauan Riau. Ada sekitar 30an orang peserta dalam kelas B. Kelas B bertempat di ruang Lotus lantai 2  persis disebelah CafĂ© tempat breakfast tamu hotel dipagi hari. 


Agenda hari pertama yaitu selain acara registrasi peserta, Pembukaan (ada sambutan dari Panitia dan pejabat Perpustakaan Nasional RI, dan penjelasan tujuan, agenda dan metode pelatihan. Hari kedua masih di Ballroom, acaranya yaitu overview program, peranan Master Trainer dan Fasilitator, keterampilan fasilitator dasar, dan metode fasilitasi. Setelah acara makan siang, masing masing kelompok menempati kelas masing masing  yang telah ditentukan oleh panitia.

Di kelas kecil masing masing kelompok belajar Role Play bimbingan teknis Strategi Pengembangan Perpustakaan (SPP). Dalam Play Role ini ada 5 sesi yang diajarkan yaitu sesi pertama Pembukaan, Konsep Perpustakaan Umum, konsep Transformasi Perpustakaan dan lain lain. Sesi 6 sampai sesi 11 dilaksanakan pada hari ke-3, dimana sesi ini diisi materi Pelibatan Masyarakat, Strategi Advokasi, Promosi, Lobi, Dokumentasi Kegiatan dan Penyusunan Rencana Kegiatan. 


Hari ke-4 kami diajarkan materi Teknologi Informasi dan Komunikasi mulai dari dasar dasar Komputer, pengantar Ms Word, MS Office, dan Ms Excel, Pengetahuan dasar Internet dan Media Sosial, cara Browsing dan mencari informasi serta penjelas ringkas tentang Aplikasi InlisLite. Pada hari ke-4, sebagian peserta mengikuti Bimtek Kunang Kunang. Kunang Kunang adalah suatu aplikasi yang dapat digunakan di lembaga perpustakaan bersama dengan aplikasi InlisLite. 

Jumat adalah hari ke-5 merupakan hari terakhir pelatihan. Materi bimtek yaitu Konsep Dasar Mentoring, Mentoring berbasis Data, Peer Learning Meeting, Stake Holder Meeting dan pemanfaatan Data Kunang Kunang. Pada malam hari setelah makan malam selesai, acara penutupan dan malam art performance dari 4 kelompok. Acara Penutupan Bimtek dihadiri oleh para Pejabat serta staf Perpustakaan Nasional dan Panitia Bimtek. Pada lomba Art Performance kami dari kelompok B menampilkan pentas drama dan tari tari daerah yang diiringi lagu lagu tradisional dari 4 daerah, yaitu Sumatra Utara, Jawa Barat, Sulawesi Selatan, dan Maluku Utara. Pertunjukan kami diakhiri dengan lagu Nasional dari Sabang Sampai Merauke, sesuai dengan tema dari Panitia yaitu UNITY IN DIVERSITY. 


Peserta dari kelompok C juga menampilkan pertunjukan lagu lagu daerah dengan persiapan yang nampak matang, karena pakaiannya seragam, warna hijab seragam, topi untuk laki laki juga seragam. Begitu pula kelompok D dan A, semua nampak seragam berkaos hitam. Dua kelompok terakhir menampilkan pertunjukan Drama, sayangnya saya agak kurang paham akan masalah dan thema yang diusungnya. Apalagi ada satu  kelompok yang lebih banyak berbahasa daerah saat berdialog, bahasa daerah yang tidak dipahami oleh sebagian besar peserta. Dipenghujung acara, pemenang lomba pertunjukan seni diumumkan, dan ternyata kelompok kami (B) tampil sebagai juara pertama. Tentu saja kami semua bersukaria menyambut kemenangan ini. Saya sendiri tidak menyangka kelompok kami juara, karena selain tidak seragam (ada yang memakai batik, ada juga yang memakai kaos hitam Perpustakaan, dan ada yang memakai kemeja biasa). Mungkin tim penilai berpendapat bahwa tim kamilah yang paling menghibur. Hadiah yang kami terima masing mendapat tas gantung etnis bertuliskan “Literasi Untuk Kesejahteraan”. Malam yang indah untuk dikenang oleh anggota kelompok kami. 


Setelah acara penutupan selesai, sebagian dari kelompok kami dan juga dari kelompok lain jalan jalan ke Kota Tua. Sayang sekali karena sudah tengah malam, kami tidak bisa lagi masuk ke pelataran kota tua. Terpaksa kami hanya jalan jalan sepanjang jalan yang banyak penjualnya. Tapi saya tidak belanja apa apa. Kami hanya duduk duduk sebentar menikmati suasana malam (dinihari) diatas jembatan dengan kanal yang sudah tertata rapi. Sayang sekali karena banyak anak jalanan dan pengemis yang seenaknya buang air kecil ditepi kanal itu sehingga sedikit berbau pesing. Setelah jam menunjukkan pukul 01 dinihari, kamipun kembali kehotel dengan menggunakan taksi online. 

Sabtu pagi, saya dan teman masih menyempatkan diri jalan jalan lagi ke Kota Tua. Di Kota Tua, kami sempat naik Sado (Bendi) keliling, berfoto bersama para artis jalanan (street performer). Kemudian kami melanjutkan perjalanan ke ITC Mangga Dua untuk membeli oleh-oleh buat istri, dan anak anak. Tiket pulang ke Makassar jam 18.15, dan panitia telah menginformasikan bahwa kami akan diantar ke Bandara pada pukul 14 .00  karena khawatir macet dijalan. Hari sabtu adalah kampanye hari terakhir salah satu kandidat calon presiden dan wakil presiden. Jam 14.00 kami pun diantar ke Bandara oleh panitia. Ternyata kami tidak sampai terhadang macet sebagaimana yang diperkirakan sebelumnya. Akhirnya kami harus menunggu di Bandara cukup lama. Perjalan pulang ke Makassar, lancar dan Alhamdulillah, kami tiba dirumah sekitar pukul 23.40 malam.Perjalanan yang melelahkan namun juga menyenangkan........
(Sumber Foto: Group WA "Kelas B Training FASKAB dan koleksi Pribadi)

 


Tuesday, January 29, 2019

Kisah Petualangan Trim, Kucing Hitam milik Matthew Flinders



             Foto saya ini adalah foto disamping kiri gedung Perpustakaan Negara bagian New South Wales, Sydney. Dibelakang saya itu ada patung kucing hitam, seukuran kucing betulan. Namanya Trim. Trim ini adalah icon perpustakaan negara bagian New South Wales. Di dalam perpustakaan, banyak boneka Trim, juga banyak merchandise bergambar Trim, baik berupa sampul buku, bookmark (pembatasbuku), tas, pulpen, dan lain lain. Bukan cuma itu, kucing ini juga dibuatkan monument dibeberapa tempat, baik di Inggris maupun di Australia. Ada juga novel sejarah berjudul “Matthew Flinders’ Cat” ditulis oleh Bryce Courtenay yang juga menceritakan kisah sikucing hitam Trim ini. Mungkin inilah kucing yang paling dikenal didunia terutama di Inggris dan Australia. 





           Trim adalah kucing yang menjalani sepanjang hidupnya di atas kapal laut bernama HMAS Reliance. Bahkan Trim lahir dikapal ini pada tahun 1799 saat pelayaran dari Cape of Good Hope ke Botany Bay. Diatas kapal penjelajah waktu itu memang banyak kucing, karena kapal kapal tersebut berukuran besar. Ada kucing yang memang sengaja dipelihara oleh para anak buah kapal (ABK), ada juga kucing liar yang naik kekapal saat berlabuh disuatu pulau tertentu. Kucing yang dipelihara biasanya bertujuan untuk menangkap tikus yang biasa menggerogoti tali temali dan barang barang dan persediaan bahan makanan dikapal selama pelayaran.
          Matthew Flinders awalnya tidak terlalu peduli dengan keberadaan kucing kucing diatas kapal layarnya. Namun pada suatu pagi, seekor kucing hitam kecil terjatuh kelaut, namun si kucing dengan segala usahanya berhasil naik kembali ke geladak kapal melalui tali tali yang dijulurukan kebawa. Saat itulah Flinders terkesan dengan keberanian dan keuletan sikucing hitam ini dan akhirnya memberinya nama TRIM. Nama ini diambil dari judul buku Tristram Shandy karangan Laurence Sterne. 
            Sejak saat itu, Flinders bukan hanya mencatat peristiwa pelayarannya kebelahan dunia bagian selatan, tetapi juga membuat catatan khusus (biografi) untuk Trim. Ada juga puisi yang ditulisnya untuk Trim. Pada salah satu catatannya tentang Trim, Flinders menulis, “..hewan tercantik yang pernah saya lihat… bulunya hitam pekat sekujur tubuhnya kecuali diujung keempat kakinya yang putih, seakan akan baru saja dicelupkan di salju, juga sedikit warna putih dibawa mulutnya dan ada bentuk seperti bintang putih disekitar dadanya…”.
          Dalam pelayaran menuju Australia dan belahan bumi selatan lainnya, Trim selalu ada disamping tuannya, Matthew Flinders. Bahkan saat Flinders dan anak buah kapal lainnya makan, Trim juga duduk diatas meja makan dan turut makan bersama. Dalam catatan Flinders, Trim hanya sekali mencuri makanan, itupun karena mungkin dipengaruhi oleh kucing lainnya. 
          Pada suatu hari dalam pelayaran dari Australia kembali ke Inggris dengan kapal layar HMS Porpoise, kapal tersebut mengalami kerusakan dan kandas dipulau karang Great Barrier Reefs. Flinders dan para ABK dan juga Trim terpaksa berenang menuju pulau terdekat. Dipulau itu mereka tinggal selama 7 pekan memperbaiki kapal sampai mereka bisa melanjutkan perjalanan kembali. Selama terdampar dipulau itu, Trim adalah satu satunya hiburan dan penyemangat para ABK.


          Dalam pelayaran kembali ke Inggris melalui benua Afrika, Flinders dan ABK-nya bermaksud singgah di kepulauan Mauritius untuk memperbaiki kerusakan dikapan dan juga untuk membeli bahan pangan. Kepulauan Mauritius adalah kepulauan kecil di Samudra Hindia waktu itu adalah jajahan Prancis, dan Prancis sedang berperang dengan Inggris pada masa itu. Flinders-pun ditahan oleh Gubernur Mauritius dan kemudian dijadikan tahanan rumah. Selama masa ditahanan itu, Trim tetap setia pada tuannya, dan juga hidup dirumah tahanan dipulau itu, meski tetap bisa keluar masuk rumah tahanan kapan saja, dan bahkan menjelajah pulau kecil itu…  



          Cukup lama Flinders ditahan di Mauritius, yaitu selama 6,5 tahun, dan dengan setia, Trim tetap menemaninya. Namun pada suatu hari di tahun 1804, Trim keluar kealam bebas, dan tidak pernah kembali lagi, membuat Flinders galau dan stress berhari hari. Sebenarnya Flinders waktu itu mencurigai para budak budak yang kelaparan telah menangkap dan memakan kucing kesayangannya itu, meski hal ini tidak pernah terbukti. Dalam catatannya, Flinders menulis, “…telah hilang lenyap kucingku yang setia dan cerdas, Trim! Teman setia pemberi semangatku dalam petualanganku mengarungi samudra selama 4 tahun…”. Banyak catatan puisi sedih ditulis oleh Flinders sejak hilangnya Trim. Flinders berjanji kepada kawan kawannya para ABK jika suatu saat nanti bisa kembali kenegerinya, kampong halamannya, dia akan membangun manumen untuk Trim, untuk mengenang kesetiannya sang kucing hitam, Trim. 


          Sayang sekali, karena Flinders tak pernah kesampaian membangun monument untuk Trim. Namun sekarang diera modern, ratusan tahun setelah hilangnya Trim, telah berdiri beberapa monument (patung) Trim, baik di Inggris maupun di Australia. Di Australia selain di Sydney, juga ada dikota Port Lincoln, Australia Selatan.
(Diterjemahkan dan disarikan dari berbagai sumber: Wikipedia, abc.net.au. Gambar: koleksi pribadi dan abc.net.au) Novel “Matthew Flinders’ Cat” oleh Bryce Courtenay adalah koleksi pribadi)




Sunday, September 16, 2018

Gelisah selama 120 Menit!




Pernah kehilangan Hape (Handphone/Cellular Phone)? Kalau pernah pasti juga merasakan apa yang kurasakan beberapa hari lalu saat kehilangan Hape. Kaget saat pertama kali menyadari bahwa hape tidak ada lagi, khawatir, cemas dan juga berharap akan menemukannya kembali. Sebenarnya apa yang saya alami adalah hape saya tertinggal di mesin ATM di salah satu Gerai ATM di salah satu SPBU di Jl. Tun Abdurrazak Makassar. Jadi bukan jatuh, kecopetan, atau dirampas orang. Intinya adalah hape hilang karena kelalaian saya sendiri, lupa mengambilnya setelah transaksi di mesin ATM. 

Kisahnya berawal saat pagi dalam perjalanan ke kantor, saya singgah di SPBU untuk mengisi bahan bakar  mobil saya sekaligus singgah di gerai ATM untuk mentransfer uang arisan alumni S1-ku. Kami alumni salah satu Fakultas di Universitas Hasanuddin Makassar menjalin silaturrahim  dengan cara pertemuan dan arisan bulanan. Pagi itu saya rencana transfer uang arisan karena kebetulan berhalangan hadir saat pertemuan bulanan hari minggu sebelumnya. Singkatnya, setelah di SPBU dan selesai mengisi BBM untuk mobilku, saya pun ke gerai ATM untuk transfer uang dan membawa hape saya karena nomor rekening bendahara arisan ada di group chat WA (Whatsapp).

Di dalam gerai ATM, ada tiga mesin ATM dari BANK yang berbeda, dan hanya ada 2 orang yang sedang  transaksi termasuk saya. Sebelum saya transaksi, saya mau memastikan dulu, apakah ATM itu bisa mengeluarkan kertas bukti transfer atau tidak. Saya akan transfer kalau ada bukti transfer keluar yang akan kufoto dan kukirim ke group WA Alumni. Ternyata, tidak ada kertas bukti transfer keluar, jadi saya memutuskan tidak jadi transfer. Hape yang tadi kuletakkan diatas mesin ATM, tidak kuingat lagi, langsung keluar dari gerai ATM dan masuk mobil melanjutkan perjalanan ke kantor. Masih sempat kuperhatikan ada seorang laki laki berbaju seragam PNS seperti saya juga masuk ke ATM dan menggunakan mesin ATM yang tadi kugunakan. 

Setiba di kantor, setelah parkir mobil, saya baru tersadar kalau Hape saya tertinggal di mesin ATM di SPBU tadi. Kaget dan cemas dan berbagai macam perasaan berkecamuk dipikiran! Hapeku bukanlah hape mahal, hape Android merek Samsung Grand Prime. Yang pertama kupikirkan ada hasil foto hasil kerja saya selama Audit Kearsipan dari 8 daerah yang saya simpan di hape itu,  yang harus saya cantumkan di Laporan hasil Audit, itu yang terpenting. Kalau yang lain hanya foto foto yang tidak terlalu urgen untuk disimpan.  Saya juga tidak pernah menyimpan data penting, semacam Nomor Rekening, Alamat, Nomor KTP (Kartu Tanda Penduduk), nomor KK (Kartu Keluarga) karena khawatir akan terjadi kehilangan dan disalahgunakan informasi itu. Dan benar juga. Saya kehilangan Hape yang  tertinggal di mesin ATM.  

Dengan pikiran yang khawatir saya masih  menyempatkan diri untuk absensi Finger Print, sebelum kembali ke ATM tadi untuk mengecek keberadaan Hapeku. Tanpa memberitahukan apa yang terjadi kepada siapapun dikantor, saya minta izin pada satpam kantor untuk keluar sebentar. Dalam perjalanan saya berusaha menganalisa kira kira apa yang terjadi dengan hapeku yang tertinggal itu. Dari berbagai pengalaman orang orang yang tertinggal hapenya disuatu fasilitas umum misalnya di ATM, Toilet dan lain lain, hampir semua kembali ke pemiliknya. Berbeda nasib Hape yang memang karena dicopet atau dicuri dalam perjalanan misalnya, akan susah ditemukan kembali. Karena sudah pasti yang mencuri atau mencopet itu orang jahat yang butuh uang. Sementara orang yang menemukan Hape, besar kemungkinan adalah orang ‘baik’ yang sadar bagaimana pentingnya hape, yang mungkin juga tidak terlalu butuh hape, karena hape itu sendiri bukan lagi barang mewah diera digital sekarang ini. Saya masih berharap orang yang menemukan Hapeku adalah orang baik. Tiba tiba saya teringat dengan laki laki berseragam PNS yang menggunakan ATM setelah saya. Mungkinkah dia mengambilnya? Rasanya tidak mungkin! Atau apakah dia melihat Hapeku tergeletak diatas ATM itu? Saya juga berkesimpulan bahwa orang orang yang menggunakan ATM untuk bertransaksi pastilah orang yang punya rekening tabungan di Bank. Punya rekening bank kemungkinan besar berarti orang yang bahagia secara finansial, tidak mungkin mau mengambil barang yang bukan haknya.  Jadi sayapun menenangkan diri. 

Setibaku di SPBU di JalanTun Abdurrazak itu, sayapun segera menuju Gerai ATM namu Hape saya sudah lenyap. Saya segera keruangan kecil disamping ruangan barber shop, yang berfungsi sebagai kantor SPBU itu. Perempuan paruh baya yang duduk dimeja kecil, menerima saya dengan senyum. Seluruh rangkaian peristiwa kehilangan hape-pun saya ceritakan kepadanya. Saya masih berharap ada seseorang pengguna mesin ATM yang menemukan hapeku dan menitipkannya padanya. Tapi jawaban perempuan itu, “saya tadi membersihkan ruangan ATM dan tidak melihat adanya hape disitu!”. Saat kutanya bagaimana dengan CCTV yang kuliat ada diruangan, jawabannya adalah, “CCTV itu hanya bisa dibuka di Bank BRI, bukan disini,Pak!”. Perempuan itu kemudian meminta nomor hapeku yang bisa dia hubungi, siapa tahu sang penemu menjawab dan mau mengembalikannya. Peristiwa hape ketinggalan di ATM sudah sering terjadi dan semua kembali ke pemiliknya, katanya. Wah, saya jadi lega mendengarnya! Dia memperlihatkan kepada saya catatannya yang berisi nomor kontak hape yang pernah ketinggalan di ATM di SPBU itu. 

Dua kali nomorku dihubungi oleh perempuan itu dan katanya lagi, “hape bapak masih aktif, tapi sepertinya tidak diangkat. Saya kembali merasa cemas.  Mungkin saja si penemu dalam perjalan dan tak mendengar dering hapeku, harapku menghibur diri. Saya kemudian memutuskan pulang kerumah dulu. Rencanaku, melalui hape istriku saya akan menghubungi nomor hapeku sendiri dan berharap bisa bicara dengan orang yang menemukannya dan berharap dia mau mengembalikannya kepadaku. 

Sesampai dirumah, istriku menyambutku dengan pertanyaan, “kenapa cepat pulang, Pa?” Saya pun menceritakan ulang apa yang telah terjadi. Istriku kemudian masuk kamar dan kembali keruang tamu sambil menyodorkan hapeku. Saya agak bingung juga. Dalam pikiranku, bagaimana bisa hape yang tertinggal di mesin ATM sudah kembali kerumahku lagi dengan selamat? Ataukah saya hanya lupa bawa dari rumah? Tidak mungkin! Saya ingat betul, saya membawanya, di mobil saya sempat buka group WA-ku, dan juga ingat betul saya letakkan di atas mesin ATM sebelum bertransaksi di ATM. Jadi hanya sekitar 1,5 jam hapeku menghilang. Lalu bagaimana bisa hape itu sudah ada dirumah? Menurut istriku, kronologisnya begini. Sesaat setelah saya berangkat kekantor, istriku hendak menelpon, dicari cari hapenya tidak ketemu. Karena kebetulan adik  istriku ada dirumah, diapun meminjam hape adiknya untuk menghubungi nomorku, hanya untuk menanyakan ‘apakah saya melihat dimana hapenya atau tidak?’. Dan istriku kaget karena yang menjawab panggilannya bukan suara saya, tapi suara laki laki lain yang menjawab, “saya temukan hape ini diatas mesin ATM di SPBU Jalan Tun Abdurrazak”. Istriku tentu saja kaget, lalu kemudian bernegosiasi dengan laki laki itu untuk ketemu. Si penemu kemudian menentukan tempat bertemu di sekitar perumahan Citra Land Celebes yang tidak jauh dari gerai ATM tempat dia menemukan hapeku. Dengan mengendarai motor yamaha-nya, istriku menemui laki laki itu yang ternyata masih usia muda dan kelihatan seperti seorang karyawan, dan segera memberikan hapeku ke istriku. Selamatlah Hapeku. Ternyata keyakinanku bahwa orang yang menemukan hapeku adalah orang baik, adalah benar adanya. Ternyata pula si penemu, sempat memposting ke group WA alumni-ku tentang hapeku yang ditemukannya, dan ditanggapi bermacam macam oleh anggota groupku.

Kesimpulan dari peristiwa yang saya alami ini adalah bahwa, jika hape anda hilang karena tertinggal disuatu tempat, kemungkinan besar anda akan menemukannya kembali. Yakinlah bahwa jauh lebih banyak orang baik dari pada orang jahat didunia ini. Dan tentu saja, jangan terlalu stress dan tetap berdoa kepada sang maha Pengatur kehidupan.  
(Gambar hanya illustrasi, dari google)